Harga Ketam Tinggi, Nelayan Udang Jadi Dilema
Musim utara dikenal kalangan masyarakat di desa Sungai Pinang adalah musim panen udang ketika melaut dan tingginya harga jual juga menjadi faktor pendapatan ekonomi masyarakat, namun dimusim utara kali ini, masyarakat nelayan desa Sungai Pinang mengeluh sebab kurangnya hasil laut terutama udang Windu, ditambah harga jual yang jauh merosot dari tahun sebelumnya.
Secara umum profesi utama masyarakat desa Sungai Pinang adalah nelayan musiman. Di musim utara inilah para nelayan udang berharap dapat hasil lebih demi menopang ekonomi keluarga. Harapan itu juga ditunjang dengan harga beli udang dari pengusaha.
Judin, salah satu nelayan di desa Sungai Pinang mengatakan untuk tahun ini dirinya tak begitu banyak menghasilkan udang. Kurangnya kapasitas udang yang didapatkannya ditambah harga beli seutas jaring (red: alat tangkap udang) seharga Rp 150.000 tak membalikkan modal awal. Biasanya tahun dulu walau tidak begitu melimpah hasil yang didapatkan tapi demi ekonomi keluarga tercukupi tetapi ditahun ini jauh berbeda.
"Kalau dulu ya udang ramai, sampai berpuluh kilo sehari dapat. Musim utara kali ini sepi, hari ini cuman dapat 4 ons saja," ujar Judin, Selasa (8/3).
Dikatakan biasanya kalau pas lagi rezeki dirinya bisa mengantongi ratusan ribu perhari. Begitu juga dengan nelayan lain ada yang memperoleh jutaan rupiah perhari. Namun selain faktor alam harga udang perkilogram juga menentukan jumlah penghasilan. Menurutnya tahun ini paling tinggi harga beli udang perkilogram Rp 120.000 dan sampai saat ini jatuh diangka Rp 100.000 saja. Dimusim utara tahun lalu pihak pengusahan berani membeli hingga harga Rp 150.000 perkilogram, sementara harga beli alat tangkap dibawah harga udang. Tahun ini malah harga ketam bangkang yang melonjak naik. Tetapi banyak nelayan udang yang tak mengubah profesi untuk menjadi nelayan ketam karena takut binatang buas seperti buaya yang akhir-akhir ini sering mengusik nelayan ketam.
"Jadi harga ketam yang naik, udang malah turun. Sementara berapa orang saja yang berani minto (mecari ketam) karena banyak buaya," katanya.
Kurangnya hasil laut ini, menyimpan dilema yang dia rasakan. Pernah terpikir untuk mencoba beralih mencari ketam. Namun karena faktor sarana prasana yang belum ada, juga faktor buaya yang kian mengganas menjadi satu alasan dirinya untuk tetap mencari udang meski hanya mendapatkan kurang dari satu kilo perhari. Dia katakan jika tidak bertahan melaut maka keluarganya tidak akan makan. Jika dihitung maka faktor kerugian lebih lebih besar seperti jumlah bahan bakar solar dan kerusakan alat tangkap yakni jaring udang yang kerap kali tersangkut cangkang siput mati.
"Harga ketam mencapai Rp 120.000 perkilogram, sedangkan mencari ketam itu tidak merusak alat. Kalau pinto (red: bubu ketam) dibuat sekali saja, tahan sampai bertahun-tahun. Jadi untuk modal mencari ketam itu tidak banyak. Beda kalau jaring, harganya saja seutas Rp 150.000 pakai dua tiga bulan jaring sudah banyak yang rusak. Bahkan setahun sudah tak bisa dipakai, sedangkan harga beli udang hanya Rp 100.000 saja," lanjutnya.
Sementara ditempat terpisah Suhardi, salah satu nelayan ketam mengatakan naiknya harga ketam membuat dirinya semakin rajin mencari. Bahkan hebohnya berita buaya yang membuat sejumlah nelayan lain takut berprofesi sepertinya, tak menjadi halangan baginya untuk mencari rezeki di sungai. Tiap hari ia pergi ke sungai tak peduli malam dan siang. Keberaniannya itu membuat pembicaraan dikalangan masyarakat Sungai Pinang.
"Buaya memang banyak, kalau satu hari itu tak sah kalau tak melihat buaya. Dia (red: buaya) tidak akan mengusik kita kalau kita tidak mengusiknya. Kita kan mencari rezeki, tentu sebagai makhluk ciptaan tuhan dia juga mengerti. Orang-orang yang diusik buaya itu mungkin mereka yang mengusik buaya duluan," paparnya.
Menurutnya dengan pekerjaan ini, setiap harinya ia bisa mengantongi ratusan ribu, sementara nelayan udang jauh menurun. Kalau dulu nelayan udang bisa kaya sesaat karena harga udang ditambah kapasitas udang yang didapatkan banyak, namun harga ketam bangkang murah. Tetapi tahun ini harga ketam tinggi, malah udang turun. Sementara harga ketam dikatakan ada beberapa seri, untuk seri A dengan berat 5 ons keatas dibeli pengusaha perkilogramnya Rp 120.000, ketam seri B dengan berat 3 ons sampai 4 ons perkilogramnya Rp 80.000 sedangkan seri C perkilogramnya seharga Rp 60.000.
"Ye ketam tak banyak tapi harga mahal maka duitnya banyak. Dulu saya cuman dapat 3 ekor, 2 ketam A dan 1 ketam B, itu duitnya Rp 200.000. Pernah dulu sehari mencapai Rp 800.000," tutur Suhardi.

