Makanan Olahan Sagu Semakin Digemari Masyarkat di Daik Lingga
LINGGA (Kepri) - Meski sagu merupakan tumbuhan yang tumbuh subur di bumi Lingga, namun untuk dapat makan makanan dari olahan sagu di Lingga khususnya Daik, sudah dibilang sulit, hal ini dipicu karena tergerusnya sagu oleh perkembangan zaman yang lebih memilih makan makanan modern.
Tetapi sejak adanya ide yang direalisaikan salah seorang pedagang yang saat ini melakukan kegiatannya di Taman Tanjung Buton, Daik Lingga, membuktikan olahan makanan dari sagu masih dan semakin digemari masyarakat.
Pai, salah seorang pedagang di taman Tanjung Buton yang hampir setiap hari melakukan aktifitas berjualan sejak awal Januari lalu selalu menyajikan makanan olah sagu. Hal yang berbeda dari pedagang lainnya membuat suatu keunikan yang berciri khas makanan melayu Lingga. Tak jarang Apay mempromosikan jenis makanan tersebut. Makanan yang merupakan warisan leluhur, ia kreasikan dan ia tampilkan pada menu utama di warung santainya.
"Kitakan orang melayu, ini makanan warisan datok moyang kita sayang kalau tidak diangkat, alhamdulillah masyarakat suka dan ada yang memuji," papar Pai, Sabtu (12/3).
Dikatakan dalam beberapa bulan ini, hasil yang didapatkan lumayan. Bahkan dalam satu malam apay bisa mengantongi keuntungan ratusan ribu. Hanya saja yang menjadi kendala, sedikit masalah tempat, oleh pihak desa Mepar. Tetapi hal ini tak menyurutkan niat ingin memperkenalkan makanan melayu Lingga warisan pendahulu ke khalayak ramai.
"Alhamdulillah, satu malam tak kurang 15 keping lempeng sagu habis, kalau sagu 4 sampai 5 kilo itu kadang tak cukup," katanya
Berbagai makanan olahan sagu yang dikenal masyarakat Lingga, namun jarang ditemui ia jual seperti lempeng sagu, lambok, gubal, kepurun dan lainnya. Kalau makanan gubal dia katakan yang menjadi kendala hanya ikan, sebab jenis makanan ini harus dikomplementer dengan gulai ikan. Begitu juga kepurun yang seakan mirip papeda kalau ditimur Indonesia, makanan ini dibuat dan dijual jika ada pelanggan yang mau. Yang menjadi rutinitas adalah lempeng sagu dan kadang diselingi makanan lambok yang tak jarang kian mendatangkan pelanggan baru. Untuk harga berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000 setiap porsinya.
"Kalau orang nak gulai tamban kita buat, tapi itukan tak sedap biasanyakan gubal dengan gulai ikan pari atau ikan duri. Kepurun juga ada tapi kita jual kalau ada yang mau saja," lanjut Apay.
Inisiatif ini menurut Pai direalisasikan mengingat semakin minimnya pengetahuan akan makanan olahan sagu, apalagi kaum generasi muda yang sudah diubah meadsetnya oleh hal-hal modern terkhusus makanan. Sebagai pedagang pertama yang mencetus dan berjual makanan khas melayu lingga ini, sebenar iba melihat kondisi Daik Lingga yang dikenal dengan sagu tetapi untuk merasakan makan makanan seperti ini sulit, dan hanya dapat dibuat pada acara keluarga saja. Namun akhinya setelah ia tegak mendirikan usaha peminat sagu kian bertambah.
"Coba kita lihat orang-orang sekarang mereka sudah terbiasa makan cemilan-cemilan yang baru. Apalagi anak-anak muda sekarang, coba ditanya masalah sagu tentu mereka tidak tahu. Jika dibandingkan sagu gizinya lebih tinggi dengan makanan yang tak seberapa itu," ucapnya.
Dengan harapan dalam hati hal ini tak dipandang remeh oleh orang-orang. Meski bukan orang asli desa Mepar tetapi niat ingin turut andil menyemarakkan Taman Tanjung Buton dan mempromosikan makanan khas Lingga tertanam dalam hati. Dia yakin dengan jalan meletarikan tradisi-tradisi melayu Lingga dalam hal makanan ini juga akan mendapat dukungan disamping daripada sebagian yang tidak mendukung. Menurutnya adanya tersedia jenis makanan-makanan ini akan menjadi nilai khas tersendiri bagi pendatang yang berkunjung ke Kabupaten Lingga khususnya Daik Lingga apalagi pendatang yang mencintai kuliner khas.
"Kita berceita tentang khas Daik. Kalau kita berangkat keluar tentu yang kita cari adalah kekhasannya, tak jarang makanan jugakan. Sejauh ini belum ada kedai yang menyediakan menu seperti ini dan baru kita satu-satunya di Daik Lingga," tutup Pai

