Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II, Pahlawan Peningkatan Ketahanan Pangan di Bidang Sagu

Diterbitkan oleh pada Senin, 14 Maret 2016 01:28 WIB dengan kategori Lingga dan sudah 4.799 kali ditampilkan

Gencarnya upaya pemerintah daerah sekarang dalam program peningkatan ekonomi dan program peningkatan ketahanan pangan masyarakat di Kabupaten Lingga, tentu tidak boleh lupa rentetan sejarah kesultanan Lingga dimana upaya Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II (1857-1883) atau Yang Dipertuan Besar Riau Lingga ke IV, demi melangsungkan kesejahteraan rakyatnya.

Sebab dimasa pemerintahannya, ia telah dulu melakukan hal yang sama dimana mampu menyediakan program dari sektor pertahanan pangan, peningkatan ekonomi dan pendidikan demi kesejahteraan masyarakat Lingga, waktu itu.

"Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II, adalah sultan yang lebih memperhatikan kesejahteraan rakyat. Dimasa dia,  kerajaan lebih maju, peningkatan bidang ekonomi, pendidikan, bahkan budidaya sagu lebih ditingkatkan," papar Fadli, salah seorang sejarawan di Daik Lingga, Kamis (3/3).

Dikatakan Fadli, merujuk pada buku sejarah ringkas Lingga - Riau tulisan
Tengku Muhammad Shaleh Daik, keturunan kelima dari Sultan  Mahmud Muzaffar Syah, dalam bukunya menyebutkan demi pertahanan sektor pangan Sultan Sulaiman menggalakkan sistem pertanian dan perkebunan. Semula Sultan Sulaiman telah memasukkan padi di Lingga yang didatangkan dari Jawa, namun program tersebut mengalami kegagalan. Untuk wilayah sawahnya menurut Fadli, berada dilokasi yang sekarang dikenal dengan Sawah Indah. Menyikapi kegagalan itu, akhirnya Sultan Sulaiman memilih sagu dengan pertimbangan, sagu pada kenyataannya lebih mudah tumbuh dibumi Lingga dan perawatannya pun tidak sulit bahkan tanpa dirawat sama sekali tanaman ini bisa tumbuh subur. Melihat hal itu Sultan Sulaiman menganjurkan rakyat mengembangbiakan pohon sagu.

"Hingga pada anak negeri untuk membiakkan rumbia, hingga pada saat itu Sultan Sulaiman adalah saudagar yang meniagakan hasil rumbia dengan kapalnya bernama Mahmud," kata Fadli menirukan teks pada catatan tersebut.

Namun menurut hemat Fadli, sagu yang berada di Lingga tidak didatangkan dari Maluku, seperti yang disebutkan beberapa reperensi baik berupa portal maupun buku. Karena sejauh ini, ia sendiri belum menemukan kata-kata itu. Sedang didalam catatan Tengku Muhammad Shaleh lebih kepada kata membiakkan. Hal ini lebih diperkuat dengan membandingkan buku sejarah ringkas Lingga - Riau tulisan Tengku Muhammad Shaleh Daik tersebut dengan surat-surat perjanjian antara Kesultanan Riau dengan pemerintahan VOC dan Hindia Belanda 1784 - 1909. Seperti diketahui Sultan Sulaiman diangkat tahun 1857 sedangkan ditahun itu perjanjian sudah tertera dibuku. Ini disimpulkan sagu telah dulu tumbuh di Lingga sementara Sultan adalah orang pertama berhasil mengembangkanbiakan sagu lebih menjadi suatu program peningkatan ekonomi dan peningkatan ketahanan pangan saat itu.

"Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II ini lebih meningkatkan produksi sagu, hingga tak hanya dilingkup Kerajaan bahkan sampai diekspor keluar sebab Sultan juga saudagar," papar Fadli.

Sementara dilansir dari portal resmi Kabupaten Lingga, linggakab.go.id menyebutkan ditahun 1860 Sultan Sulaiman membuka Industri sagu dan pabriknya, dibangun dihulu sungai Daik (Kampung Robat). Dizaman ini Lingga mencapai puncak keemasan.

''Mengajukan dan menukarkan sawah padi dengan sagu (Rumbia) yang di datangkan dari Borneo Serawak dan membuka industri sagu tahun 1860.
Membuka penambangan timah di Singkep dan Kolong-kolong Sultan dengan Mandor yang terkenal pada zaman itu La Abok dan kulinya orang-orang Cina Kek yang menurut ceritanya nama inilah nama Dabo Singkep," tulis dalam portal tersebut.

Dari hasil tersebut, selain dikonsumsi rakyat, demi kelancaran perputaran ekonomi di wilayah Lingga sebagian dijual ke Singapura, Johor serta Pahang. Sagu-sagu tersebut diolah menjadi bahan siap jadi diangkut menggunakan perahu kerajaan yang dikenal namanya yakni Srilanjut, Gempita, Lelarum Sri Daik, Bahtera Bayu dan Mahmud. Kehidupan rakyat sejahtera, bahkan banyak orang dari luar yang mulai meramaikan Lingga dari sektor dagang. Sungai Daik menjadi jalur nadi dagang saat itu yang sarat dengan perahu. Sekarang sagu masih dapat dilihat hijau menghiasi jalan tetapi pemaknaannya yang berbeda bukan lagi dikenal dengan perkebunan sagu tetapi lebih menjadi hutan sagu, begitu juga sungai Daik, lebih menjadi tong sampah.

Sementara, salah seorang mahasiswa di Daik Lingga yang tak mau disebutkan namanya, mengatakan jika kembali lagi kebelakang, melihat program yang dijalankan pemerintahan sekarang di Lingga tak lepas dari upaya melanjutkan keberhasil Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II dibidang ketahanan pangan. Begitu juga melihat disisi persawahan yang sudah mengalami kegagalan bahkan pada masa pemimpin kabupaten sebelumnya juga mengalami hal yang sama, dan diharapkan hal ini menjadi pertimbangan pemimpinan saat ini. Sementara berbicara sagu lebih mudah dibudidayakan dan dimasa kesultanan tanaman ini lebih diprioritaskan. Menurutnya melihat pemerintahan Lingga yang dipegang pemimpin baru sekarang, sangat optimis dengan persawahan, maka secara tak langsung dia ikut mensuport, namun akan lebih baik jika diseiringkan dengan membudidayakan sagu karena sagu lebih akrab dikalangan petani dan masyarakat Lingga.

"Pemerintah sekarang optimis dengan sawah, tapi jika ada keinginan untuk mengembangkan sagu juga akan lebih baik. Dan itu juga harus dilakukan, sagu harus dikembangkan di tempat kita. Apalagi sagu lebih dikenal masyarakat kita. Jadi sagu ini tidak boleh untuk dilupakan," paparnya.