Penguatan Dolar AS Bikin Harga Minyak Tergelincir

Diterbitkan oleh Redaksi pada Sabtu, 21 Mei 2016 10:43 WIB dengan kategori Bisnis dan sudah 765 kali ditampilkan

NEW YORK - Harga minyak tergelincir pada akhir pekan karena dolar Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat. Namun, pelaku pasar pasar masih melihat adanya gangguan pasokan yang mengurangi stok minyak dunia.

Melansir Reuters, Jakarta, Sabu (21/5/2016), harga patokan minyak global Brent crude LCOc1 turun 9 sen menjadi USD48,72 per barel, sementara minyak mentah CLc1 AS turun 41 sen menjadi USD47,75 per barel.

Kontrak Juli diperdagangkan lebih aktif turun 26 sen atau 0,5 persen ke USD48,41 per barel.

Tercatat dolar AS mencapai level tertinggi terhadap yen dalam lebih dari tiga minggu dan melaju untuk minggu ketiga keuntungan pada pemasangan ekspektasi untuk kenaikan musim panas tingkat AS.

Penguatan greenback dapat mendorong harga minyak lebih rendah karena membuat komoditas dalam denominasi dolar lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Sementara gangguan produksi di seluruh dunia telah memicu kenaikan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya di pasar terjadi kelebihan pasokan selama hampir dua tahun.

Gangguan tersebut seperti kebakaran hutan di Kanada yang mempengaruhi beberapa ladang minyak. Kemudian gangguan di Nigeri, Libya dan Venezuela yang ikut mempengaruhi harga.

"Sentimen pasar secara keseluruhan tetap bias terbalik sebagai kontingensi tumbuh dari pelaku pasar dari pandangan bahwa pasar sudah dalam pola rebalancing dan putaran saat pemotongan produksi terjadwal mulai untuk mempercepat proses," kata partner senior Dominick Chirichella di Institut Manajemen Energi.

Serangan di Nigeria mengurangi hampir setengah ekspor mencapai 1,4 juta barel per hari, terendah dalam lebih dari 22 tahun.

Kebakaran di provinsi Alberta di Kanada, yang kaya minyak ini telah mempengaruhi produksi hingga 1,4 juta barel per hari. Sementara di Libya telah dilanda konflik internal.

"Risiko yang meningkat dan Venezuela bisa menjadi kejatuha berikutnya" kata Michael Tran, direktur strategi energi di RBC Capital Markets di New York. (rol)