Jokowi Kemukakan Alasan Jumlah Pengusaha di Indonesia Masih Sedikit

Diterbitkan oleh Redaksi pada Senin, 23 Mei 2016 12:40 WIB dengan kategori Bisnis dan sudah 914 kali ditampilkan

BANDUNG -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan alasan terkait masih sedikitnya jumlah pengusaha di Indonesia dibandingkan negara lain di kawasan ASEAN.

"Kenapa kita baru 1,6 persen yang jadi pengusaha, padahal di negara lain lingkup ASEAN lebih dari empat persen," kata Presiden Jokowi dalam acara Jambore Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Perguruan Tinggi se-ASEAN yang diselenggarakan di Telkom University Convention Hall Bandung, Senin (23/5).

Pertanyaan itu sekaligus menjawab pertanyaan mengapa jumlah wirausaha di Indonesia belum sebanyak Singapura yang mencapai tujuh persen jumlah penduduk, Malaysia enam persen, Thailand lima persen, bahkan Vietnam tiga persen.

Menurut Mantan Gubernur DKI Jakarta itu, hal tersebut disebabkan karena ketakutan masyarakat di Tanah Air untuk bersaing atau berkompetisi. "Ya karena itu, ketakutan kita bersaing atau berkompetisi," katanya.

Oleh karena itu menurut dia, modal semangat untuk berwirausaha saja tidak cukup tetapi seseorang harus mampu merespon perkembangan zaman. Presiden Jokowi mencontohkan dunia berubah dalam hitungan detik termasuk kemajuan teknologi yang menjadikan dunia seolah sudah tanpa batas.

"Kita tahu sekarang berjualan kadang-kadang sudah tidak langsung di pasar atau mal, tapi e-commerce, online store semua tersedia dari mulai kelas internasional seperti Alibaba, e-bay, Lazada kemudian yang kita juga ada Bukalapak, Traveloka, Blibli, dan juga yang start up yang sudah mulai kita kenal," katanya.

Selain kemajuan teknologi, ia menekankan rantai pasok bahan baku produk saat ini sudah sangat global sehingga tidak mungkin lagi untuk dibatasi. Apalagi dengan adanya sosial media yang semakin terbuka sehingga segala sesuatu tersaji sangat cepat tanpa mungkin untuk dibendung lagi."Dalam situasi perubahan yang sangat cepat pilihan hanya dua kita mau yang terbuka atau tertutup. Tapi di manapun negara sama saja pilihannya hanya dua itu saja," katanya. (rol)