Adopsi Pendidikan Asing Tak Pengaruhi Nasionalisme

Diterbitkan oleh Redaksi pada Jumat, 10 Juni 2016 13:20 WIB dengan kategori Pendidikan dan sudah 736 kali ditampilkan

JAKARTA - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir menilai, nasionalisme sudah menjadi keharusan bagi setiap warga negara Indonesia (WNI).

Sehingga, hadirnya orang asing di Tanah Air, termasuk profesor dapat dimaklumi sebagai dampak dari globalisasi dan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Nasionalisme masuk ke dalam wawasan bela negara. Bukan berarti jika kita mengadopsi ilmu dari luar negeri akan mempertaruhkan nasionalisme," tuturnya ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, tadi malam.

Globalisasi dan MEA membuat setiap negara tak ada batasan lagi. Belum lagi ditambah adanya kemajuan teknologi dan informasi.

"Nasionalisme tergantung bagaimana setiap bangsa dalam mengelolanya. Tentu kita juga memiliki batasan dengan adanya undang-undang," terangnya.

Penguatan nasionalisme generasi muda sendiri bisa dibentuk dengan berbagai cara. Salah satunya dengan memberi wawasan bela negara, misalnya kepada para mahasiswa baru.

Guna mendorong kampus-kampus Indonesia berkelas dunia, Kemristekdikti berencana mendatangkan profesor asing untuk transfer ilmu di Tanah Air. Di samping itu, terdapat pula upaya untuk meningkatkan hasil riset dan publikasi internasional, serta mengadopsi pemikiran kampus-kampus kelas dunia.

Nasir menegaskan, langkah ini bukan sepenuhnya mendatangkan, tapi mengadopsi pemikiran para profesor asing tersebut. Kampus pun didorong melakukan kolaborasi agar mampu sejajar dengan perguruan tinggi asing.

"Contohnya kita lihat Universitas Teknologi Johor Malaysia. Mereka kerjasama dengan kampus di Jepang. Sehingga kuliah di sana tidak perlu ke negaranya. Nah, dengan kolaborasi tersebut lulusan Indonesia jadi berkelas dunia," pungkasnya. (okz)