Sebelum Sains, Alquran Jelaskan Lapisan Langit

Diterbitkan oleh Redaksi pada Jumat, 10 Juni 2016 08:51 WIB dengan kategori Khazanah dan sudah 1.671 kali ditampilkan


Kemudian ditemukan bahwa udara di lapisan bawah atmosfer lebih padat. Sekira 50 persen dari massa udara terletak antara permukaan bumi dan 20 ribu kaki di atas permukaan laut dan 90 persen terletak antara permukaan bumi dan 50.000 kaki di atas permukaan laut. Oleh karena itu, kepadatan berkurang secara vertikal hingga udara mencapai penghalusan tertinggi (tekanan minimum) di lapisan yang lebih tinggi dari atmosfer sebelum benar-benar menghilang di luar angkasa.

Namun sebelum diketahui bahwa luas lapisan atmosfer berbeda, Alquran telah diturunkan. Akibatnya, tekanan rendah dan penurunan oksigen, yang perlu diketahui manusia, di lapisan yang lebih tinggi, juga tidak diketahui. Orang-orang pada waktu itu tidak mengetahui fakta-fakta ini.

Sebaliknya, mereka percaya bahwa setiap kali manusia pergi ke tempat yang lebih tinggi, ia akan merasa lebih tenang dengan kebahagiaan dan menikmati angin. Namun Allah SWT sebenarnya sudah menurunkan ayat yang menjelaskan perbedaan lapisan atmosfer ini melalui Alquran.

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya [503], niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman,” Al-An`am : 125.

Ayat di atas jelas menunjukkan dua fakta yang baru ditemukan akhir-akhir ini oleh ilmu pengetahuan modern. Yang pertama bahwa dyspnea terjadi ketika seseorang berjalan lebih tinggi di lapisan atmosfer karena kekurangan oksigen dan penurunan tekanan udara.

Yang kedua adalah bahwa keadaan tersedak sebelumnya yang menyebabkan kematian terjadi ketika seseorang pergi lebih dari 30 ribu kaki di atas permukaan laut. Hal ini disebabkan oleh penurunan drastis tekanan udara dan kurangnya oksigen secara ekstrim. Demikian seperti dilansir dari Quran and Science, Kamis (9/6/2016). (okz)