Fenomenal Sang Tenaga Pendidik "IGI" Angkat Angkat Suara

Diterbitkan oleh pada Selasa, 14 Juni 2016 22:10 WIB dengan kategori Makassar dan sudah 1.244 kali ditampilkan

MAKASSAR - Bertahun-tahun lamanya, guru tak tersentuh pelatihan, tak tersentuh diklat dan bahkan hampir semua diklat, pelatihan, workshop dan seminar dibuat sporadis, tak terukur dan tidak tepat sasaran.

Ada guru yang spesialis pelatihan dan jauh lebih banyak guru yang tak pernah pelatihan sama sekali. Kini, dengan UKG, minimal pemetaan kemampuan guru sedikit terbaca dan diklat bisa tepat sasaran. terkininews.com (14/06/2016). 

Maraknya LPTK karena minat alumni SMA memilih jurusan kependidikan juga menjadi masalah tersendiri, LPTK banyak yang melahirkan luaran yang kemampuannya dibawah standar lalu karena tidak lulus seleksi PNS memilih menjadi tenaga sukarela, tenaga honorer atau guru tidak tetap dan disisi lain, beberapa sekolah negeri juga membutuhkannya. 

Pemerintah juga belum secara tegas melakukan pemerataan guru baik dari sisi kuantitas, kualitas maupun profesionalismenya pada bidang studi uang diampuh. 

Pemerintah juga belum berani menarik guru-guru PNS di Sekolah-sekolah swasta untuk mengisi kekurangan guru di sekolah negeri. 

Pemerintah terutama pemerintah daerah juga banyak menumpuk guru di kota dan mengabaikan desa dan dusun. 

Padahal kita berharap guru-guru hebat seperti Slamet Riyanto yang telah menerbitkan lebih dari 160 buku tapi tetap bertahan di sekolah Kampung Di Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta. 

Masalah pendidikan masih begitu banyak sehingga menempatkan guru dalam kekhawatiran apalagi dalam ketakutan yang nyata adalah sebuah malapetaka, IGI memilih untuk tidak sekedar berwacana di level nasional tapi terjun langsung mendampingi dan terus memantau guru-guru bermasalah dan jika ada guru-guru bermasalah disekitar bapak dan ibu, seperti ancaman, ketakutan, pungutan liar hingga masalah administrasi, jangan pernah ragu menyampaikannya ke IGI, baik ke IGI kabupaten/kota, IGI Wilayah maupun langsung ke kami di IGI Pusat, pastikan ada bukti rekaman atau fisik agar memudahkan penyelesaian. 

IGI tidak mau berbagai masalah guru membuat mereka tak punya waktu dan tak bisa berkonsentrasi pada peningkatan mutu guru yang menjadi konsen utama IGI disemua tingkatan karena masa depan Indonesia ditentukan hari ini oleh guru-guru kita. 

Di rillis Muhammad Ramli Rahim Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia.(*)