PUASA MELEBUR MUSUH SEJATI MANUSIA

Diterbitkan oleh Redaksi pada Selasa, 28 Juni 2016 17:49 WIB dengan kategori Opini dan sudah 1.475 kali ditampilkan

Ramadhan tinggal berapa hari lagi akan meninggalkan kita semua, bagi umat islam tentu sangat berat berpisah dengan bulan yang penuh rahmat dan bulan ampunan ini. Bulan puasa telah memberikan kita spirit untuk mengasah kepekaan hati kita untuk banyak berbagi kepada sesama.

Sangat terasa sekali bulan puasa mendidik kita untuk selalu intropeksi diri bahwa kita sebagai hambanya yang lemah dan tidak punya kekuatan dihadapan Allah Swt. Puasa melebur musuh sejati dalam diri manusia sangat menarik sekali untuk kita bahas, karena ternyata kalau direnungkan puasa sebenarnya secara hakikat adalah melebur musuh sejati manusia yaitu hawa nafsu atau nafsu syahwat. Dalam bahasa Psikologi bisa kita artikan sebagai Selfis atau Egosentrisme. Jadi rukun islam dan rukun iman adalah tools untuk bisa meleburkan musuh sejati manusia yaitu iblis laknatullah. Iblis laknatullah bukan diartikan sebagai sosok atau entitas dan  atmorphisme, tetapi egosentrisme/individualisme dan keserakahan yang ada dalam diri manusia. Puasa juga melebur sifat kemunafikan dalam diri manusia, karena kita dilatih untuk tidak berbohong pada diri sendiri. Selain itu puasa juga mempertajam hati nurani untuk selalu tidak terselubungi oleh hawa nafsu yang selalu tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Banyak pelajaran dari puasa yang kita laksanakan sebulan penuh dibulan ramadhan saat ini. Setelah puasa melebur iblis dalam diri nya, barulah system sosial dalam masyarakat bisa terbangun secara harmonis. Umat islam yang siangnya berpuasa, malamnya beribadah dengan tujuan menjadi kekasih allah swt, tentunya setelah berakhirnya bulan puasa ramadhan akan menjadi manusia yang bersih dari segala macam penyakit hati. Ini menandakan bahwa puasa secara hakikatnya mampu menjadikan manusia kembali sebagai mahluk sosial dan menjadi wakil-Nya dimuka bumi. Sejenak, kita bertanya-tanya, mengapa hati perlu dibesihkan dan bahkan disucikan dari berbagai noda?karena, demikian tafsiran William C. Chittick terhadap ajaran-ajaran spirituall Jalaluddin Rumi, Bahwasanya “Tuhan berada di dalam hati orang-orang suci. Sedangkan hatinya orang awam hanyalah air dan tanah. Yang membedakan baik buruknya manusia adalah hatinya. Tugas manusia di dunia ini adalah menyucikan hati, menggosoknya sampai mengkilap, dengan berpuasa dan niat yang ikhlas kita pasti bisa mencapai derajat tersebut.

Tetapi pertanyaannya apakah setelah puasa ramadhan berlalu,manusia keluar menjadi pemenang dari melawan hawa nafsu atau musuh sejatinya. Karena sebulan berpuasa dibulan ramadhan harus bisa membebaskan diri manusia dari segala macam kegelapan yang menyelimutinya. Karena ada tantangan manusia setelah puasa dibulan ramadhan yaitu sebelas bulan yang akan dihadapinya. Apakah sebulan berpuasa mampu menjadikan manusia tetap bisa komitmen dan istiqomah dijalan kebenaran. Sebab sebelas bulan pasca bulan puasa itulah pertarungan yang sebenarnya. Jikalau tidak ada efek terhadap perubahan pada diri manusia, berarti puasa dibulan ramadhan hanyalah Ritual yang tanpa bekas. Ritual yang dilakukan manusia ternyata masih belum bisa menangkap makna pembebasan manusia dari   iblis laknatullah atau egosentrisme dalam diri manusia itu sendiri. Mereka yang berpuasa masih belum bisa menjadi pribadi-pribadi yang bertaqwa. Karena terjebak dengan symbol-simbol keagamaan yang sifatnya ritualistic. Parahnya lagi, ada juga orang yang menjadikan puasa Ramadhan hanya sebagai tameng dalam menjalani hidup. Ramadhan dijadikannya sebagai bulan kepura-puraan; pura-pura beramal salih dan bersedekah, pura-pura tidak korupsi, pura-pura berbuat baik kepada rakyat miskin, dan kepura-puraan yang lain. Sebelas bulan berikutnya, mereka kembali melakukan tindakan melawan hukum, serta mengeksploitasi masyarakat demi meraih tujuan pribadinya.

 

Akhirnya, puasa hanyalah ritual rutin yang tidak memberikan dampak apapun bagi perubahan bangsa ini. Sehabis puasa, praktik koruptif kembali terjadi. Orang miskin terus dimiskinkan, meskipun pelaku pemiskinan itu telah menjalani puasa sebulan penuh. Hukum pun hanya berpihak pada orang-orang yang memiliki duit dan akses hokum. Musuh sejati manusia yang telah berhasil ditaklukkan menjadi nafsu jujur  selama puasa berlangsung, kembali menguasai bahkan seketika Syawal datang. Jadi, untuk apa sebenarnya kita berpuasa? Benarkah untuk mengubah diri menjadi pribadi yang lebih bertaqwa, atau hanya lantaran tidak enak dengan tetangga? Mampukah kita menangkap pesan pembebasan puasa sebagaimana mestinya, la allakum tattaquun, sehingga berbuah semangat untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, dan menciptakan tata kehidupan yang berkeadilan? Inilah tantangan pasca puasa yang mesti dijawab.!