Rumah Mewah Penjual Vaksin Palsu

Diterbitkan oleh pada Selasa, 28 Juni 2016 02:04 WIB dengan kategori Nasional dan sudah 1.154 kali ditampilkan

Tidak habisnya akal-akalan segelintir orang tidak bertanggung jawab demi meraup pundi-pundi rupiah. Setelah dihadapi dengan beredarnya sejumlah barang abal-abal tak ber-SNI (Standar Nasional Indonesia), kini masyarakat harus dibayang-bayangi kekhawatiran lantaran beredarnya vaksin palsu.

 

Vaksin abal-abal ini jelas mengancam kehidupan generasi penerus bangsa. Bagaimana tidak, vaksin palsu itu diperuntukkan bagi bayi yang baru lahir. Penyidik Bareskrim mabes Polri telah menetapkan 13 orang sebagai tersangka kasus tersebut. Dimana dua diantaranya merupakan pasangan suami istri, yakni Hidayat Taufiqurahman dan Rita Agustina. Dari penelusuran merdeka.com lewat akun facebook Rina Agustina, terlihat kehidupan perempuan tersebut cukup mewah dengan menempati rumah berlantai 2 di Jalan Kumala 2 Blok M, Nomor 29, Bekasi.

Rumah tersebut juga terdapat kolam renang bergaya minimalis di bagian belakangnya. Dan terparkir satu unit mobil Mitsubishi Pajero di garasi rumah.

Dari foto yang didapat, nampak pasangan suami istri tersebut masih terlihat cukup muda dan kerapkali mengunggah aktivitas mereka yang dilakukan bersama-sama. Sayangnya, kini akun itu sudah tidak dapat diakses.

Sebelum ditangkap, pasangan ini disbeut-sebut berniat pindah dan menjual rumah mewahnya. "Sudah ditawarkan Rp 6 miliar, namun baru ditawar calon pembeli Rp 5 miliar," kata Komandan Regu Satpam Perumahan, Eko Supriyanto, Minggu (26/6).

Dia tak mengetahui pasti rencana penjualan rumah yang dihuni pelaku sejak 2013 itu. Menurut Eko, sebelum tinggal di Jalan Kumala 2, Hidayat bersama istrinya yang merupakan mantan perawat tersebut tinggal di sebuah rumah di kawasan Kemang Pratama 3 secara mengontrak.

"Di sini dia beli tanah kavling, kemudian dibangun rumah dua lantai," ujar Eko.

Dia tak mengetahui pasti berapa dana yang dihabiskan Hidayat bersama istrinya untuk membangun rumah mewah itu. Namun, rata-rata pembangunan rumah mewah di daerah itu bisa menghabiskan dana miliaran rupiah.

"Biasanya warga di sini membangunnya pakai pemborong, sehingga pemilik rumah terima beres," kata Eko.(MERDEKA)