Brexit dan Kembalinya Kapitalisme Anglo Saxon

Diterbitkan oleh pada Jumat, 8 Juli 2016 04:07 WIB dengan kategori Opini dan sudah 1.493 kali ditampilkan

Banyak yang bilang Brexit adalah 'akhir' dari neoliberalisme yang ditampilkan oleh Uni Eropa dan 'awal mula' kedaulatan ekonomi. Tapi perkembangan di seputar Partai Buruh dan Konservatif akhir-akhir ini menunjukkan hal yang sebaliknya.


 Brexit adalah awal mula dari kebangkitan kembali Kapitalisme Anglo-Saxon, yang nafas utamanya adalah 'neoliberalisme' dalam wajah yang lebih segar dan nafas yang lebih radikal.


Pemilihan Pemimpin Partai Konservatif sepeninggal David Cameron sudah mengerucut pada dua nama: Theresa May dan Andrea Leadsom. Ini bukan kabar yang baik: keduanya adalah satu dari dua sisi Thatcherisme. Theresa May adalah arsitek utama kebijakan2 yang membatasi imigrasi, yang juga sedikit banyaknya mempengaruhi mahasiswa: Penambahan Dependant Fee, pengurangan jam kerja mahasiswa (dari 20 jam hingga 10 jam per minggu), pelarangan Dependant untuk bekerja, tambahan minimum payment untuk imigran yang ingin bekerja, dll.


Di sisi lain, Andrea Leadsom adalah proponen utama pasar-bebas dan tidak menyukai peran negara yang terlalu banyak dalam ekonomi. Dia terang-terangan mengkritik Uni Eropa yang menurutnya 'kurang neolib' dan terlalu banyak campur tangan dalam ekonomi dan sosial. Walaupun keduanya terpisah dalam dua kubu (Theresa May mendukung Bremain dan Andrea Leadsom memback-up Brexit), ideologi yang ditampilkan kedua kandidat ini membentuk beberapa premis dari Manifesto Pemilu Thatcher tahun 1979.


Di sisi lain, Partai Buruh juga dihadapkan pada gonjang-ganjing internal. Beberapa politikus Partai Buruh meminta Jeremy Corbyn mundur. Beberapa yang cukup terkemuka: Angela Eagle dan Owen Smith. Banyak yang melihat faksionalisasi ini sebagai bentuk terbaru dari friksi 'Corbynite' vs 'Blairite' yang mencerminkan dua spektrum ideologis Partai Buruh: Sosialisme Demokrasi di satu sisi dan 'New Labour Modernist' yang diasosiasikan dengan Tony Blair dan Gordon Brown di sisi lain.


Kaum Blairite sedang mengonsolidasi kekuatannya dengan mengeksploitasi kelemahan Corbyn dalam mengorganisasi kampanye Remain dan Pemilu Lokal, sementara kelompok Corbynite menyerang kelompok Blairite soal isu Perang Iraq.


Dengan dua konfigurasi politik ini, perkembangan ke depan akan menjadi menarik. Keluarnya Inggris dari Uni Eropa bukan berarti 'akhir' dari neoliberalisme, karena Inggris masih punya satu hal lain: Special Relationship.


Yang terjadi, di tangan entah May atau Leadsom, adalah haluan yang diputar dari Eropa ke Atlantik Utara. Sejauh ini, posisinya masih strategis: Amerika Serikat membutuhkan aliansi yang kuat untuk menghadapi tantangan Cina. Maka, 'aliansi tradisional' Trans-Atlantik yang terbangun di Perang Dingin menjadi pilihan yang strategis. Di sisi lain, dengan semakin melemahnya Partai Buruh (entah dengan skenario Jeremy Corbyn ttp jadi Pemimpin Oposisi atau pemilihan ulang), Konservatif semakin terkonsolidasi dan menegaskan kembali dominasinya yang sempat rapuh di Pemilu Lokal kemarin.


Apapun kemungkinannya, semua akan berpulang di Konferensi Partai bulan Oktober nanti: Konferensi Partai Buruh di Liverpool dan Konferensi Konservatif di Birmingham. Mari kita nantikan.



*Disadur dari akun facebooknya