Sepuluh Mahasiswa IPB Asal Rohul Terancam Dipecat

Diterbitkan oleh pada Ahad, 24 Juli 2016 19:12 WIB dengan kategori Pendidikan dan sudah 1.064 kali ditampilkan

PASIRPANGARAIAN- Sedikitnya sepuluh mahasiswa asal Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, penerima bantuan Beasiswa Utusan Daerah (BUD), tengah belajar di Institut Pertanian Bogor (IPB) Jawa Barat terancam dinonaktifkan hingga diberhentikan oleh pihak kampus.


Sepuluh mahasiswa IPB asal Rohul ini merupakan mahasiswa berprestasi dan mendapat beasiswa dari Pemkab Rohul pada 2013 silam. Pihak IPB menilai Pemkab Rohul telah melanggar MoU yang sudah diteken 2013 silam.

Ke sepuluh mahasiswa berprestasi yang tengah belajar di IPB, yakni Ajri, Tengku Afrizal, Yeni Suryani, Fauzi Wahyudi, Rian Herdiansah, Saurlina Agustina, Nesha Priga Hasanah, M. Syaiful Mustaqim, Ilman Ghoni, dan Rizki Jumiati Hasanah.

Pihak IPB sudah mengirimkan surat resmi ke Pemkab Rohul sesuai surat Nomor 3959/IT3.27/KU/2016 tertanggal 14 April 2016, perihal Biaya Pendidikan Mahasiswa BUD Program Sarjana IPB, diteken oleh Ketua TIM BUD IPB Ir. Ibnul Qayim. Namun masalah itu belum ada jawaban dari pemerintah daerah.

Di poin dua, dalam surat resminya, Ketua TIM BUD IPB mengatakan sesuai komitmen bersama atau MoU, seharusnya Pemkab Rohul membayar biaya pendidikan sepuluh mahasiswa BUD hingga semester sepuluh.

Namun, hingga mulai semester tiga hingga semester tujuh, atau memasuki tahun akademik 2015/2016, ke sepuluh mahasiswa asal Rohul harus membayar sendiri biaya pendidikannya, termasuk biaya hidupnya selama belajar di Bogor.

Di poin lima, pihak IPB menegaskan akan memberikan status non aktif bagi mahasiswa, apabila Pemkab Rohul selaku pihak penyandang dana belum juga membayarkan biaya pendidikan atau SPP sepuluh mahasiswa BUD tersebut.

Bahkan, di poin tujuh ditegaskan, bila mahasiswa yang dua semester berturut-turut berstatus non aktif dan pada masa registrasi berikutnya tak melaksanakan registrasi ulang akan diberhentikan dari IPB.

Mahasiswa Pasrah 

Yeni Suryani, salah seorang Mahasiswa BUD asal Rohul mengakui dirinya hanya bisa meski harus diberhentikan oleh pihak kampus IPB. Namun, ia dan sembilan mahasiswa lain sudah berjuang semampunya untuk menutupi biaya pendidikan dan biaya hidup selama di Bogor.

Dirinya mengakui sesuai MoU dengan Pemkab Rohul tahun 2013 silam, semasa Bupati Rohul Achmad, biaya pendidikan mereka mulai semester satu hingga semester sepuluh ditanggung penuh oleh Pemkab Rohul.

Namun setelah mereka belajar di IPB, Pemkab Rohul hanya menutupi biaya semester satu dan semester dua (Rp9 juta per semester), termasuk biaya hidup mereka selama di Bogor.

Namun, ketika masuk semester tiga, mahasiswa dikejutkan ketika pihak kampus IPB mengirim surat, karena Pemkab Rohul belum juga melunasi biaya SPP.

"Terpaksa orang tua kami masing-masing yang membayarnya. Ada yang mampu, ada yang tidak mampu," ungkap Yeni saat dihubungi riauterkini.com, Ahad (24/7/16).

Yeni mengakui dirinya dan beberapa temannya sudah berjumpa dengan Wakil Bupati Rohul H. Sukiman saat liburan Idul Fitri 2016 lalu. Namun, Sukiman mengaku dirinya tak tahu masalah program beasiswa itu, karena dirinya baru menjabat Wabup Rohul.

"Kami disarankan berjumpa Pak Jaharuddin (Kepala DPKA Rohul), namun tidak bertemu karena kata ajudannya orang tuanya sedang sakit," terangnya.

Yeni mengharapkan Pemkab Rohul atau DPRD Rohul memikirkan nasib pendidikan sepuluh mahasiswa asal Rohul yang tengah belajar di kampus IPB. Sebab, keluarga mereka tidak sanggup lagi menanggung biaya pendidikan dan biaya hidup mereka.

"Hanya ini harapan kami. Karena ada janji beasiswa dari Pemkab Rokan Hulu itu kami mau belajar di sini bang (IPB)," tandas Yeni.***(riauterkini/zal)