Darurat LGBT

Diterbitkan oleh Redaksi pada Selasa, 18 Oktober 2016 06:32 WIB dengan kategori Opini dan sudah 1.311 kali ditampilkan

LGBT merupakan akronim dari Lesbian, Gay, Bisexsual, dan transgender. Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an dan menggantikan frasa  komunitas gay, karena istilah ini lebih mewakili kelompok-kelompok yang telah disebutkan. Akronim ini dibuat dengan tujuan untuk menekankan keanekaragaman budaya yang berdasarkan identitas sexualitas dan gender.

Di Indonesia fenomena ini sangatlah pelik ditambah lagi dengan semakin berani dan percaya dirinya sebagian dari kaum LGBT untuk tampil didepan umum. Tren ini semakin meningkat seiring dengan banyaknya produk-produk budaya populer yang masuk ke Indonesia. Hal ini sudah tentu meresahkan publik karna prilaku LGBT ini tidak sesuai dengan nilai norma dan agama. Namun, tidak sedikit juga publik lebih di buat penasaran tentang keberadaan kaum LGBT di Indonesia.

Seperti kasus yang dialami oleh pedangdut Saipul Jamil beberapa pekan lalu, yang kini harus mendekam di tahanan karena tuduhan pelecehan seksual yang dilayangkan oleh remaja laki-laki yang berinisial DS. Walau pihak pihak saipul sempat menyangkal, namun pihak pelapor justru membeberkan serentetan bukti yang semakin melemahkan posisi saipul. Fakta tentang Saipul Jamil ini jelas mengejutkan banyak pihak, mengingat pria ini dikenal sangat taat beribadah.

Selanjutnya kasus penyimpangan sexual yang baru-baru ini terjadi di Rengat, Indragiri Hulu. Publik dihebohkan dengan isu pernikahan sejenis. Fakta seputar kisah tentang pernikahan sejenis ini terbongkar  di Kantor Urusan Agama Rengat, Indragiri Hulu. Yang cukup mengejutkan, ternyata calon pengantin wanita sudah mengetahui terlebih dahulu bahwa calon pengantin pria satu jenis kelamin dengan dirinya. Namun perbuatan itu diduga sengaja di rahasiakannya.

Fenomena diatas tersebut membuktikan bahwa prilaku penyimpangan sexual tidak hanya terjadi dilingkungan masyarakat namun juga bisa terjadi dilingkungan public figure papan atas. Bisa dikatakan juga Indonesia saat ini mengalami darurat prilaku sexs  menyimpang. Sehingga banyak menimbulkan pertanyaan bagi kita seperti, berapa banyak kaum LGBT yang ada di Indonesia? Apa yang mendorong mereka melakukan kegiatan sex menyimpang ini? Apa yang seharusnya dilakukan pemerintah dalam menyikapi masalah LGBT ini? Dan siapakah yang bertanggung jawab atas fenomena LGBT ini?

Hingga kini belum dapat dipastikan berapa jumlah LGBT di Indonesia sebenarnya, pasalnya kebanyakan dari mereka masih menutup diri. Secara umum penyebab prilaku LGBT ini adalah faktor keluarga dan lingkungan yang merupakan tempat prilaku seorang individu dikembangkan lalu setelah itu prilaku individu tersebut dapat mempengaruhi lingkungan lain dimana seorang individu itu berada.

Jika lingkungannya tidak baik maka akan berdampak pada diri seorang individu tersebut dan dapat mempengaruhi individu lainnya. Selanjutnya bisa juga disebabkan oleh faktor ketidakseimbangan hormon seks di dalam tubuh seseorang individu, atau adanya faktor dalam diri seorang individu yang mencari kepuasaan dan menghayati pengalaman sexs menyimpang yang menggairahkan pada masa remaja

Seperti halnya didalam lingkungan keluarga, dewasa ini banyak sekali orang tua yang terlalu sibuk dalam mencari kebutuhan materi, sehingga selalu mengabaikan kewajibannya untuk memberikan perhatian yang lebih kepada anak-anaknya. Oleh sebab itu anak-anak zaman sekarang kebanyakan menganggap bahwa orang tua mereka sebagai orang tua yang hanya menyediakan fasilitas materi tetapi bukan teman curhat yang mengasyikkan dan terpecaya sehingga menimbulkan kesan acuh tak acuh.

 Dan oleh sebab itu juga nilai-nilai negatif  dapat dengan mudahnya mempengaruhi prilaku seorang anak. Seharusnya didalam lingkungan keluarga sikap orang orang tua dituntut untuk lebih bijak, peduli dan mau belajar bagaimana mendidik dan mendampingi anak-anaknya agar tumbuh secara sehat fisik, mental, maupun spiritualnya karna lingkungan keluarga adalah lembaga pertama yang dapat membentuk karakter seorang anak.

Munculnya pro-kontra antara psikologis ilmiah dan analisis teologis, adalah suatu hal yang tak dapat di elakkan. Pemerintah dituntut untuk dapat mengintegrasikan hal tersebut sehingga kebijakan yang akan diambil sesuai dengan harapan publik. Memang pada dasarnya untuk mengambil kebijakan yang sesuai dengan keinginan publik itu bukanlah hal yang mudah, butuh proses yang cukup panjang.

Ditambah lagi dengan hadirnya media sosial berbasis internet, yang membuat dunia semakin plural dan warna warni. Mereka yang pro terhadap LGBT ini yang merasa sebagai kelompok minoritas yang terkucilkan dan tertindas, sangat aktif dan efektif menggunakan fasilitas media sosial untuk memperkenalkan diri mencari teman seideologi dan senasib dengan mereka.

 Maka dari itu untuk menekan lajunya perkembangan prilaku LGBT ini, pemerintah bekerjasama dengan lembaga-lembaga terkait dapat mengambil inisiatif berupa diadakannya program-program yang lebih efektif seperti pendekatan dan pendidikan agama, pendidikan pancasila, dan pedidikan budaya yang intensif.

Bagi masyarakat Indonesia yang masih setia pada nilai norma dan agama, sangat wajar kalau mereka menentang. Apalagi masyarakat berpendapat bahwa prilaku LGBT ini dapat mempengaruhi pertumbuhan remaja yang masih dalam proses pencarian identitas diri sehingga dapat membawa mereka ke gaya hidup yang dianggap melanggar nilai norma dan agama.

Oleh karena itu masalah LGBT ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Kalaupun LGBT dipandang sebagai kelainan, kita mesti bersimpati dan berempati bagaimana membantu menyembuhkannya. Jika LGBT sebagai pilihan gaya hidup karena berbagai alasan yang melatarbelakangi, maka masig-masing pihak yang pro dan kontra mesti duduk dan bicara baik-baik bagaimana cara menemukan solusinya. Mengingat Indonesia bukanlah Barat tidak bijak kalau sampai melakukan tindakan fisik, pengusiran dan diskriminatif sebagaimana yang pernah dialami oleh kelompok-kelompok minoritas LGBT sebelumnya.” (*)

 

Ditulis oleh: Safaat, Mahasiswa STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang