Konvoi KMLB Lambu Bima Peringati Tragedi SK 188 Tahun 2011
BIMA, -- Peringati Tragedi Berdarah SK 188 Tahun 2011 silam digelar dalam konvoi keliling yang dimulai dari desa rato kec lambu oleh Kerukunan Mahasiswa Lambu Bima (KMLB)
Tragedi berdarah tersebut adalah peringatan penolakan terhadap tambang emas yang menewaskan 2 (dua) orang warga dan puluhan lain nya luka-luka ketika pembubaran paksa oleh kepolisian di pelabuhan kec Sape yang di boikot oleh masyarakat dengan alasan pembukaan jalur transportasi laut bagi warga yang merayakan hari natal.
Massa pada konvoi tersebut dalam orasinya menuntut beberapa point yang berbunyi 'cabut SK 188' itu adalah harga mati, pemerintah kecamatan harus tegas terhadap pemerintah desa terkait problem yang menimbulkan konflik antara masyarakat dan pemerintah.
Aparat kepolisian harus menuntaskan dan memproses lebih dalam terhadap oknum polisi yang melakukan penembakan terhadap masyarkat kec lambu dan sape, serta tuntaskan segala persoalan yang ada di kecamatan sampai keakar-akarnya.
Aksi massa juga menegaskan bahwa akan melakukan aksi yang lebih besar lagi jika tuntutan mereka tak terpenuhi. Ungkap Syarifuddin selaku korlap konvoi tersebut Sabtu (23/12/2017), terkininews.com
Lanjut Syarifudin mengatakan bahwa kasus ini bukan semata-semata aksi murni yang di inginkan oleh masyarakat, tetapi reaksi terhadap proyek tambang berdasarkan hasil pengumpulan informasih oleh masyarakat ternyata tidak di sosialisasikan terlebih dahulu.
Apalagi peristiwa itu dipicu oleh sikap pejabat yang persuasif meresponsif tuntutan warga yang menghendaki adanya dialog antara pemerintah dan masyarakat, sambungnya.
Hal senada juga di ungkapkan Muhdar selaku ketua umum KLMB bahwa tindakan pengendalian huru hara yang di lakukan oleh polri tidak dapat dilihat dari satu sisi, karena hal tersebut merupakan langkah terpaksa untuk mengendalikan situasi yang meski dengan adanya jatuh korban jiwa.
Namun menurutnya pada kasus tragedi tersebut, yang dalam pengamatan masyarakat masih menyisahkan kondisi hubungan yang tidak harmonis, bahkan timbul semacam 'kebencian yang tersembunyi terhadap pemerintah termasuk polri, sehingga sangat merugikan pihak kepolisian sendiri.
"Seyogianya, kekuatan kepolisian bukan terletak pada senjata yang di sandang dan kewenangan nya secara legal melainkan dukungan masyarakat secara menyeluruh" terang Muhdar.
Ungkapan sama dari Umran aktivis senior Tragedi SK 188 yang telah ultimatum penolakan terhadap rencana pemerintah Kab Bima untuk menghadirkan kembali tambang di wilayah kec lambu.
Mrnurutnya cukup peristiwa lama yang di kenang, jangan di ulangi lagi pada hal yang sama dan secara tegas menyerukan, 'Tetap Tolak Tambang' apapun alasanya. Tegas Umran tokoh senior peristiwa kelam silam
Sementra itu Iptu Quraisin Kapolsek kec lambu saat dikonfirmasi tetkait aksi konvoi tersebut membenarkan adanya aksi konvoi keliling, dari KMLB yang menurutnya resmi memasukan surat pemberitahuan aksi, dengan menggunakan 1(satu) unit mobil Pick Ap lengkap dengan sound system dan 8 (delapan) unit kendaraan bermotor dengan estimasi massa 25 orang. Ungkap Iptu Quraisin Kapolsek lambu (edy).

