Erdogan dan Prediksi Hasil Pemilu Turki
Recep Tayyib Erdogan. Recep Tayyib Erdogan. Recep Tayyib Erdogan. Demikian reff dari lirik lagu kampanye yang diputar lewat mobil minibus mengelilingi Kota Istanbul, Turki. Berulang-ulang reff lirik itu diputar ketika penulis mengunjungi Turki sepekan lalu. 12 - 17 Juni 2018. Oh, penulis baru ngeh ternyata ini musim kampanye dan Turki akan melakukan Pemilihan Raya atau Pemilu Presiden dan Parlemen secara serentak 24 Juni mendatang.
Sepanjang jalan Istanbul terpajang wajah politisi Turki dan memang yang paling dominan adalah wajah Erdogan da AKP partai yang mengusung Erdogan. Namun, menjadi pertanyaan menarik apakah jalannya akan semulus seperti pesta demokrasi sebelumnya bersama AKP. Pemilu Turki kali ini bisa saja berbanding lurus antara suara partai dan capresnya mengingat digelar secara langsung dalam satu waktu.
Hal menarik lainnya, dalam Pemilihan Umum Presiden terdapat lima Capres yang turut bertarung diantaranya adalah anggota parlemen Muharrem Ince (54) dari Partai Rakyat Republik (CHP), satu-satunya kandidat wanita dan mantan Menteri Dalam Negeri Meral Aksener (61) dari Partai Good (IYI), Selahattin Demirtas (45) dari Partai Demokratik Rakyat (HDP), Dogu Perincek (76) dari Partai Patriotik (Vatan) dan Temel Karamollaoglu (77) dari Partai Felicity (Saadet).
Di antara kelima Capres tersebut Muharrem Ince (54) dari Partai Rakyat Republik (CHP) adalah pesaing terberat Erdogan. Jika Pemilu sebelumnya, AKP dan Erdogan bisa menang dengan mudah, Pemilu kali ini tidak mudah bagi Erdogan dan AKP. Erdogan dan AKP tentu harus waspada karena diterpa isu ekonomi dan persoalan politik nasional lainnya seperti isu kurdi dan masalah isu suriah.
Terkait isu ekonomi, saat penulis disana penulis menyaksikan langsung betapa nilai tukar Lira yang lemah. Tapi ketika penulis menyaksikan secara langsung daya beli tidak menurun, pusat-pusat perbelanjaan tetap saja ramai. Ini kemungkinan besar tidak akan membuat pengaruh yang signifikan bagi eksistensi Erdogan dan AKP.
Selain itu, Erdogan juga relatif gencar melawan melalui kebijakan-kebijakannya dengan menyudutkan kelompok separatis Partai Pekerja Kurdistan (PKK). PKK militan dan kelompok ini juga bertalian langsung dengan Suriah dan sikap Pemerintah Turki dibawah kepemimpinan akhir-akhir ini.
Ketiga isu inilah yang perlu diwaspadai Erdogan dan sepertinya sudah disikapi dengan bijak. Meminjam beragam hasil survei memang popularitas dan elektabilitasnya paling tinggi. Selain itu, Erdogan beruntung juga karena banyak Capres yang muncul sehingga suara kelompok oposisi menjadi terpecah. Nah, bagaimana hasilnya, kita tunggu saja nanti, apakah jalan Erdogan mulus atau malah terhambat! Selamat berdemokrasi rakyat Turki.
*Raja Dachroni adalah Direktur Gurindam Research Centre (GRC)
.

