Guruapin Kecamatan Kayoa Dan Semangat Gotong Royong (Makalono)

Diterbitkan oleh Adhie pada Ahad, 21 Maret 2021 20:29 WIB dengan kategori Opini dan sudah 633 kali ditampilkan

 

Oleh :Kurniawan Ahmad

Guruapin adalah sebuah Desa yang letaknya berada di Kecamatan Kayoa, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara, Desa Guruapin adalah Desa yang gersang, karena letaknya berada di tengah-tengah garis Khatulistiwa, mayoritas pekerjaan penduduk Desa Guruapin adalah Petani, dalam semangat bergotong royong sangatlah luar biasa, masyarakat desa guruapin menyebutkan kata gotong royong adalah makalono, makalono ini di artikan sebagai gotong royong, atau saling membantu antara satu dengan yang lainya.

Akar lahirnya istilah gotong royong, kata gotong royong sendiri berasal dari bahasa jawa Gotong yang maksudnya memikul, dan royong yang maksudnya secara bersama-sama sehingga gotong royong ini di sama artikan dengan bekerja sama dalam menyelesaikan suatu kegiatan yang menyangkut kegiatan bersama, sehingga gotong royong ini sudah lama dan melembaga dalam masyarakat indonesia semenjak jaman kerajaan, Hindu di jawa seperti Mataram kuno dan Majapahit.

Sehingga gotong royong sudah menjadi jati diri bangsa indonesia, dalam artikel yang di tulis oleh "yudi Latif", yang berjudul "Mengapa pancasila itu penting" artikel tersebut iya menyebutkan bahwa bung karno menyatakan, jika saya peras yang lama menjadi tiga dan yang tiga menjadi satu, dapatlah saya satu perkataan Gotong Royong, sehingga negara indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong, Negara indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong kata lain, dasar dari semua sila pancasila adalah gotong royong maknanya adalah prinsip ketuhanan haruslah bergotong royong (Ketuhanan yang berkebudayaan, yang lapang dan toleran, termasuk dalam membina toleransi antara umat beragama) bukan ketuhanan yang lain menyerang dan mengucilkan antara agama dan kepercayaan yang plural di indonesia. Prinsip internasionalisme-nya harus berjiwa gotong royong (yang berprikemanusiaan dan berpri keadilan) bukan internasionalisme yang menjajah dan dan eksploratif, prinsip kejiwaan harus jiwa gotong royong (Mampuh mengembangkan dari aneka perbedaan Bhineka Tungal Ika) bukan yang meniadakan perbedaan dan menolak persatuan , prinsip Demokrasi juga harus berjiwa gotong royong (Mampuh membangun musyawarah mufakat) bukan demokrasi yang di dikte oleh suara mayoritas atau minoritas elite penguasa modal (Monokrasi) prinsip kesejahtraan pun harus berjiwa gotong royong (Membangun partisipasi dan emansipasi di bidang ekonomi dengan semangat kekeluargaan) bukan visi kesejahtraan yang berbasis individualisme kapitalisme bukan pula yang mengekang kebebasan individu seperti dalam sistem etatisme.

Sehingga semangat gotong royong  ini di ambil oleh masyarakat Desa Guruapin dan menjadikanya semangat gotong royong sebagai sebuah keniscayaan kehidupan bersama yang  menamainya dengan makalono

Semangat gotong royong atau malalono mengisyaratkan kebersamaan dalam pekerjaan. Yang harus di pikul bersama, Masyarakat Desa Guruapin memiliki kesadaran yang tinggi untuk bersama-sama melakukan kegiatan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, begitu ada informasi, ada pekerjaan yang harus di selesaikan secara bersama-sama yang menyangkut kepentingan masyarakat,  masyarakat berbondong- bondong untuk membantu dan mengerjakan secara bersama-sama bergotong royong (makalono) tanpa pamrih atau tidak mengharapkan imbalan jasa dari apa yang mereka lakukan tersebut.

Dalam tradisi gotong royong (makalono) Masyarakat Desa Guruapin biasanya di lakukan pada saat kematian, perkawinan, haji, semuanya dilakukan  dengan bergotong royong (Makalono) pada saat itu semua masyarakat Desa Guruapin hususnya Lelaki, berbondong-bondong kekebun mengambil kayu bakar dan kayu bakar tersebut di gunakan untuk memasak makanan dll.

Selanjutnya Gotong Royong (Makalono) yang paling terkenal dan semenjak dahulu kala telah di buat dan ini telah menjadi identitas dari Masyarakat Desa Guruapin iyalah ketika ada kerabat yang notabenya petani kopra ketika membutuhkan bantuan semua dilakukan dengan Bergotong Royong (Makalono) hingga menjadikan kelapa sebagai kopra, dan ketika seseorang membuat rumah maka Masyarakat Desa Guruapin membantunya dengan cara Bergotong Royong (Makalono) hingga dengan semangat bergotong royong (Makalono)  inilah masyarakat Desa Guruapin Mampuh membuat Satu Mesjid dan satu Musolah dengan hasil suadaya dari masyarakat tersebut.

Semoga tradisi gotong royong (Makalono) di Desa Guruapin selalu di jaga dan tidak hilang karena terkikis dengan roda perkembangan jaman, dan selalu melekat dan menjadikan Gotong Royong (Makalono) ini sebagai spirit kebersamaan dalam kehidupan Masyarakat Desa Guruapin.