100 Putaran dan Jaket di Tengah Hujan

Diterbitkan oleh Redaksi pada Ahad, 25 Mei 2025 18:45 WIB dengan kategori Feature dan sudah 261 kali ditampilkan

Perjuangan tidak hanya berputar di antara belajar dan bekerja keras untuk mencapai keinginan atau mimpi. Bagaimana dengan perjuangan dalam meraih cinta seseorang? Terdengar klise. Namun, menarik?

 

Saya tidak peduli soal cinta, sebelumnya. Apalagi mencintai seseorang selain keluarga? Saya hanya berpikir itu hal yang merepotkan dan membuang waktu. Cerita ini dimulai sewaktu saya berada di tahun terakhir sekolah menengah atas.

 

Selesai kelas yang memenuhi hari, sore itu saya dan teman-teman dekat memutuskan untuk bersantai menghabiskan waktu di kelas yang sudah kosong. Suara nyanyian menggaung di ruang kelas putih itu, sementara saya duduk di salah satu kursi yang letaknya kian acak.

 

Setelah virus Covid-19, sekolah terpaksa dilaksanakan secara daring selama dua tahun lamanya, hal ini membuat saya sulit mengenali beberapa teman sekelas. Tidak banyak yang saya kenal selain beberapa orang yang kenal lebih awal, yang saya sebut sebagai teman-teman dekat sebelumnya.

 

Sore itu lamunan saya terasa membosankan, tidak tertarik bergabung dengan nyanyian berisik lainnya, saya mengalihkan pandangan saya ke laki-laki yang duduk tidak jauh dari saya. Masker hitam menutupi setengah wajahnya. Bulu matanya lentik berayun mengikuti tulisan demi tulisan yang ada di buku bacaannya. Menggenggam buku di satu tangan sementara tangan lainnya terpangku di meja.

 

Setelah beberapa pertimbangan, saya memutuskan untuk menghampiri dan memulai percakapan. Nyatanya, tidak hanya percakapan yang dimulai. Namun cerita yang semula hanya saya dan dia, perlahan berubah menjadi kami. Untuk menulis kisah ini kembali, saya memintanya menceritakan ulang.

 

Kata Pertama

Semuanya dimulai dari pertanyaan sederhana, "Baca buku apa?"

 

Katanya, dia sempat terkejut karena itu. “Aku kaget, awalnya. Pas kamu tanya itu, aku takut kamu mikir aku mau bunuh diri karena buku ini. No longer Human, karya Dazai Osamu.” ucapnya malam itu saat saya memintanya mengingat kembali pertemuan pertama kami.

 

Mendengar nama Dazai Osamu, saya dengan mudah melanjutkan obrolan tentang karakter anime dengan nama yang sama di Bungou Stray Dogs.

 

“Aku mulai jatuh hati sama cara kamu membicarakan sesuatu.” Tambahnya setelah menceritakan pertemuan kembali masa itu.

 

Perpustakaan

Kebetulan teman main kami sama, cerita berlanjut saat teman-teman mengajak untuk ke Perpustakaan Nasional bersama. Langkah awal, dia bertanya kesediaan saya untuk berangkat bersama ke stasiun.

 

Saya cukup gugup, jujur. Ini pertama kalinya untuk saya ditanyakan pergi bersama dengan seorang lawan jenis, selain keluarga. Respon saya sepertinya diartikan sebagai takut olehnya, dia bilang, “Aku kira kamu takut sama aku, mungkin karena kita masih sebatas kenal, ya…”

 

Ternyata, ini sama-sama yang pertama untuk kami berdua. Berboncengan ke stasiun dan perjalanan sampai Perpusnas berjalan dengan hampir sangat mulus. Obrolan semakin dekat dan saya merasa pandangan saya padanya berubah. Bukan hanya teman biasa. Perasaannya berbeda, unik, dan tidak bisa dijelaskan.

 

Ketidaktahuan akan transportasi umum membuat kami dan teman-teman berjalan kaki dari stasiun Gondangdia ke Perpusnas. Siang itu panas terik membuatku mendengus. Panas. Apalagi dengan laptop tebal jadul yang saya bawa.

 

Dengan baik hatinya, dia menawarkan untuk membawakan tas saya. Respon pertama saya adalah alis mengerut heran, tetapi kemudian perasaan tidak enak muncul di benak saya. Dengan cepat saya menolak, tidak ingin merepotkan. Dengan kerasnya juga dia memaksa untuk membawakan, akhirnya saya memberi syarat. Saya bawakan tas dia yang lebih ringan, dan sebaliknya dia bawa tas saya yang lebih berat.

 

“Itu pengalaman yang lucu.” Tawanya geli saat mengingat kejadian itu yang membuat saya turut geli mengingat alotnya kami saat itu.

 

Belajar

Kembali ke keseharian sekolah. Tipikal sekolah negeri dengan jadwal padat penuh hari. Saya baru rajin di tahun terakhir ini. Mengerjakan semua tugas dan aktif diskusi. Hal ini membuat saya dianggap “pintar” olehnya. Sementara dia, menurut pengakuannya, “aur-auran.”

 

Meski dia merasa seperti itu, saya tidak demikian. Saya pernah bertanya soal tugas matematika padanya, saya melihat dia mahir dalam logika berpikir matematika. Karena pertanyaan saya perihal tugas, dia bilang mulai belajar lagi, padahal sebelumnya malas. Katanya, agar pertanyaan saya bisa terjawab kalau bertanya.

 

Pulang Bareng

Segalanya mulai berubah saat dia tahu saya selalu pulang sekolah dengan berjalan kaki. Sejak itu, kami pulang bersama. Awalnya canggung. Saya yang terbiasa sendiri, kini berjalan berdua dengan laki-laki — untuk pertama kalinya.

 

Canggung sekali. Gugup. Rasanya tidak jelas. Bahkan saat menyadari dia hanya mengikuti dalam diam di belakang, saya terlalu gugup untuk memulai percakapan.

 

Beruntungnya, beberapa minggu berlalu sejak yang pertama, saya mulai terbiasa berjalan sejajar di pulang bareng itu. Kami mulai ngobrol dan cerita banyak hal. Saya merasa semakin mengenalnya, demikian juga dia.

 

100 Putaran

Hubungan kami di kelas semakin dekat. Kami banyak melakukan hal bersama. Mengerjakan tugas, berdiskusi, dan bermain kartu. Dari bermain kartu, saya mengenal dirinya sebagai pribadi yang teliti dan pemikir panjang. Dari 100 putaran lebih kami bermain poker, 80 putaran dimenangkan olehnya.

 

Kedekatan kami hampir tidak saya sadari, terlalu mengalir sehingga membuatnya menjadi kebiasaan.

 

Suatu hari, hujan tiba-tiba turun saat kami di tengah jalan pulang. Saya menerobos tanpa ragu, rasa lelah sekolah seharian membuat saya tidak peduli dengan basahnya hujan. Namun tidak dengannya. Dia melepas jaket yang digunakan, lantas kemudian melemparkannya ke atas kepala saya. Katanya, itu untuk menutup kepala saya agar tidak kena hujan, sementara dia hanya dengan seragam putih tipis dan celana abu.

 

Saya sempat menolak karena juga mengkhawatirkannya kehujanan. Banyak alasan saya lontarkan tetapi kepalanya lebih keras untuk menerima. Akhirnya saya gunakan jaketnya hingga pulang. Dalam hati saya tanamkan, “besok pakai jaket, ah, biar dia bisa pakai jaketnya sendiri dan aku juga.”

 

Salah Paham

Ada suatu saat yang kurang beruntung untuk saya. Kurang lebih seminggu saya tidak masuk sekolah karena radang lambung. Ditambah dengan jari kaki yang digigit tikus. Karena itu, laki-laki baik ini menerima tawaran motor dari orang tuanya karena ingin mengantar saya pulang.

 

"Itu alasannya, buat pulang bareng kamu biar kamu enggak sakit, enggak cape.” jelasnya di tengah cerita.

 

Tersentuh jelas hati saya. Pertama kalinya diperlakukan sebaik ini dengan seseorang selain keluarga. Semuanya terasa baik-baik saja hingga tarian tanpa henti tersendat tiba-tiba. Kesalahpahaman. Ego. Keras kepala. Seolah kisah sebelumnya tertelan begitu saja.

 

Saya menyadari bagaimana dia menjauh. Menghindari kehadiran dan apapun tentang saya. Rasanya aneh, resah, kala melihatnya duduk jauh dan tidak melihat saya setitik pun, apalagi berbicara. Bak pasir yang mengalir lepas di genggaman jari. Hilang begitu saja.

 

Hingga kelulusan sekolah dan saya beranjak kuliah, kami tidak berbicara atau bertatap lagi. Ada saat saya resah, akhirnya berujung kesal dengan perasaan sendiri yang tak tersampaikan. Beberapa kali saya mencoba memulai percakapan, dia masih menghindari. Saya pikir, oh, seperti ini cinta monyet di bangku SMA yang biasa orang-orang bilang.

 

Harapan

“Aku kangen banget sama kamu.” mulai ceritanya menarik masa lalu saat kami masih saling memunggungi satu sama lain.

 

Harapannya sama, kesempatan untuk kembali ke kehidupan yang lalu. Di saat masih bersama dan berwarna.

 

Apakah semuanya akan kembali?

 

Dia mulai mencintai banyak hal yang saya sukai atau yang biasa saya lakukan. Dia mulai menulis dan menggambar. Menulis larik, dengan harapan mengulang yang lalu.

 

"Aku pikir aku bakal nulis sampai kapanpun." jelasnya.

 

Sadar yang lalu tidak akan kembali, harapan berubah menjadi memperbaiki semuanya.

 

"Aku belajar menggambar karena kamu suka gambar."

 

Proses belajar, mulai dari  menggambar rumah, bangunan, hingga karakter animasi. Semuanya digambar untuk mulai menggambar potret saya.

 

Dikumpulkan juga foto-foto lama saya dari foto bersama teman-teman. “Aku jadikan favorit semua, kamu bakal selalu jadi perempuan favorit aku.” Tambahnya yang membuat senyum geli terbentuk di sudut bibir saya saat mendengar.

 

Dia bahkan menuliskan lagu untuk saya. Lagu yang berisi curahan hatinya selama menjarak.

 

Semua yang sudah dia lakukan tiada sia. Gambar potret saya dianggapnya jadi hasil. Beberapa hari sebelum ulang tahun saya, dia buat beberapa gambar potret dan gagal banyak sekali. Kertas-kertas berserakan. Gambarnya jadi. Difoto dan post di instagram bersama teman,  ucapan ulang tahun untuk saya dengan gambar miliknya disana.

 

"Sedih, sih, kamu enggak tau kalo aku yang kirim (karena melalui akun bersama). Tapi gapapa, aku kirim buat kasih semangat ke kamu, aku tau kamu lagi sibuk sama proyek kuliah.” Jelasnya memberikan alasan saat menceritakan kisahnya.

 

Bertemu Kembali

Ajakan teman-teman kami untuk buka puasa bersama terasa seperti angin segar. Saya yakin, dia pasti datang dan tidak ada alasan saya untuk tidak datang. Saya bersiap, menyiapkan penampilan terbaik saya saat itu untuk bertemu dengannya lagi setelah selama ini.

 

Setahun lebih adalah jeda yang cukup lama. Pertemuan ini jelas menunjukkan perubahan masing-masing diri kami. Saat melihatnya lagi, tanpa sadar perasaan yang sudah lama tertanam memompa kembali. Tanpa sadar saya menatapnya beberapa kali, senang melihatnya saat itu. Namun tidak dengannya, dia terlihat masih menghindari percakapan, di saat teman-teman berbincang saja dia hanya menjawab obrolan teman lainnya, selain saya.

 

Murung. Bahkan ayam goreng bumbu pedas yang saya sukai seperti tidak menarik lagi di meja makan. Saya merasa tidak kuasa, apalagi teman-teman kami yang kelewat jahil mendorong kami untuk duduk bersebelahan. Dengan helaan nafas tertahan saya mencoba menghabiskan makan dengan tenang.

 

Selesai makan, kami dan teman-teman melanjutkan ke destinasi kedua. Berjalan ke sebuah toko serbaguna, saya memisahkan diri ke rak yang dipenuhi perlengkapan seni. Saat saya tenggelam dalam pikiran, suara seseorang membuat saya mengerjap.

 

“Masih suka melukis?” suaranya terdengar dari belakang sebelum dia berdiri di sebelah saya.

 

Menyadari dia memulai percakapan, saya tidak bisa menahan senyum untuk tersemat di bibir. Saya mengangguk dan menjawab, bertahan untuk tetap tenang atau untuk tidak bertanya ada apa dengannya yang lalu.

 

Aneh, obrolan kami berlanjut begitu saja, mengalir dengan mudah seperti teman lama yang baru bertemu setelah sekian lama. Senang? Tentu, senang sekali. Pada titik ini, saya baru menyadari betapa rindu yang saya kumpulkan sudah menumpuk penuh.

 

Berbekal nekat, saya mengajaknya pulang bareng malam itu. Seperti kilas balik saat dia mengajak saya pulang bareng di sekolah, kali ini sebaliknya. Akhirnya saya tau betapa mendebarkan menunggu jawaban atas tanya. Tuhan, dia mengiyakannya. Malam itu kami pulang bersama dan menceritakan semua cerita yang tertahan lama ini.

 

Beberapa hari berlalu dan obrolan kami melalui gawai tiada henti. Bahkan beberapa kali kami bertemu untuk sekadar jajan di malam minggu atau di sela-sela tugas kuliah yang membuat kepala keriting. Hingga beberapa bulan setelahnya, kami sepakat untuk menjalin hubungan hingga saat ini.

 

"Apa yang aku harapkan terkabul. Enggak ada hal yang sia-sia." Tuturnya penuh kasih di akhir cerita.

 

Pada akhirnya apa yang kami dapatkan dan pertahankan saat ini bukan hanya cerita konyol semata. Ini adalah perjalanan dan perjuangan tentang keberanian memulai, jatuh, lalu tumbuh kembali. Seperti kata Nadin Amizah dalam lagunya “Taruh”, Hancur lebih mudah dari bertahan, kan? Bila bisa bertahan, untuk apa hancur? Menghancurkan semua harapan yang sudah kami bangun dan membuangnya kembali. Apa yang terjadi menjadi pengalaman dan enggan untuk diulang kembali.

 

 

Dini Puspita Ramadhani

Mahasiswa Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta