Berpacu dengan Diri Sendiri: Kunci Menang dalam Hidup

Diterbitkan oleh Redaksi pada Senin, 26 Mei 2025 18:08 WIB dengan kategori Opini Suara Mahasiswa dan sudah 1.100 kali ditampilkan

Oleh: Camilla Luthfiah Putri

Mahasiswa Jurnalistik Politeknik Negeri Jakarta

 

Pernahkah kamu merasa tertinggal dalam hidup hanya karena melihat pencapaian orang lain? Temanmu lulus lebih cepat, adik kelas sudah menikah, atau rekan seangkatan mulai merintis bisnis yang sukses. Lalu kamu mulai bertanya pada diri sendiri: "Aku sedang apa? Kenapa aku masih di sini-sini saja?"

Fenomena ini dikenal dengan istilah social comparison atau perbandingan sosial. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Leon Festinger pada tahun 1954. Menurutnya, manusia secara alami membandingkan diri dengan orang lain untuk menilai nilai atau pencapaian pribadi. Namun, di era media sosial yang serba instan dan penuh pencitraan, kebiasaan ini semakin tak terkendali. Kita tidak lagi membandingkan untuk evaluasi diri, tetapi untuk menakar harga diri — dan itu sangat melelahkan.

Sebuah studi dari University of Pennsylvania (2018) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara berlebihan dapat memicu stres, kecemasan, bahkan menurunnya motivasi. Kita jadi merasa hidup ini tak pernah cukup, hanya karena orang lain tampak lebih “jadi” di layar kecil yang kita tatap setiap hari.

Padahal, motivasi sejati tidak lahir dari keinginan mengungguli orang lain, melainkan dari semangat untuk berkembang menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Ini sejalan dengan Self-Determination Theory dari Edward Deci dan Richard Ryan, yang menekankan bahwa motivasi intrinsik tumbuh saat seseorang merasa memiliki kendali atas pilihannya, mampu berkembang, dan merasa terhubung dengan lingkungannya.

Lalu, bagaimana cara menjaga semangat tetap menyala di tengah derasnya pencapaian orang lain?
1. Akui perasaanmu, tapi jangan terjebak di dalamnya
Merasa tertinggal itu manusiawi. Namun jangan biarkan rasa itu menjadi beban yang menghalangi langkahmu. Ubah menjadi dorongan: "Apa yang sebenarnya aku inginkan?" atau "Langkah kecil apa yang bisa kulakukan hari ini?"

2. Ukur sukses dengan standar versimu sendiri
Tak semua orang harus menjadi CEO di usia muda atau menikah di usia 25. Jika kamu sedang belajar bahasa baru, menabung pelan-pelan, atau mencoba bangkit dari keterpurukan—itu juga bentuk kemajuan. Tentukan definisi suksesmu sendiri, bukan versi orang lain.

3. Jadwalkan waktu refleksi
Luangkan waktu sekitar 10 menit setiap minggu untuk mencatat apa yang telah kamu lakukan, apa yang ingin diperbaiki, dan apa yang kamu syukuri. Refleksi membuatmu sadar bahwa kamu sedang berjalan, meski perlahan.

4. Waspadai jebakan ekspektasi sosial
Terkadang kita kehilangan motivasi bukan karena gagal, tetapi karena merasa harus memenuhi standar orang lain. Padahal, hidup yang damai, sehat, dan sesuai nilai-nilai pribadi juga merupakan bentuk sukses yang layak dirayakan.

5. Bangun kebiasaan kecil yang konsisten
Menurut James Clear dalam bukunya Atomic Habits, perubahan besar dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Misalnya: membaca lima menit, minum air putih setiap pagi, atau mengurangi waktu scrolling. Terlihat sepele, tapi dampaknya bisa luar biasa.

6. Ingat, semua orang sedang berjuang
Apa yang kamu lihat hanyalah permukaan. Kamu tidak tahu perjuangan dan air mata di balik senyum seseorang. Fokuslah pada cerita hidupmu sendiri, bukan bab dari kehidupan orang lain.

Hidup akan terasa jauh lebih ringan ketika kamu berhenti berkompetisi dengan orang lain dan mulai berpacu dengan dirimu sendiri. Kamu tak harus menjadi yang tercepat atau yang paling sempurna. Cukup jadi versi terbaik dari dirimu sendiri, dengan ritme dan arah yang kamu pilih.

Karena dalam perlombaan ini, kamu adalah satu-satunya lawan, dan juga satu-satunya juara. Dan setiap langkah kecilmu adalah kemenangan yang layak dirayakan.