Jatuh, Bangkit, dan Bermimpi Lagi
Muhammad Naufal Syafrie
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta
Ruang tamu itu masih hangat oleh aroma kopi dan pisang kukus yang baru saja keluar dari tempat kukusan. Hari itu adalah pengumuman SNBT yang telah aku tunggu selama berminggu-minggu. Namun, aku duduk termangu, menatap layar ponsel yang menampilkan pengumuman yang tak pernah aku harapkan: “JANGAN PUTUS ASA DAN TETAP SEMANGAT!”
Banyak orang bilang kegagalan adalah hal biasa, seperti kata pepatah yang diulang-ulang di setiap kesempatan. Tetapi bagi aku, ini bukan hanya soal gagal. Ini tentang mimpi yang sempat tumbuh seperti kuncup bunga di awal musim semi, lalu layu sebelum sempat mekar.
Aku sudah mempersiapkan diri jauh sebelum hari itu tiba. Aku mengumpulkan berlembar-lembar catatan, mengikuti les, berdiskusi dan mengerjakan soal latihan bersama teman hingga larut malam. Bahkan aku menuliskan impian itu di kertas yang ditempel di dinding kamarku, seakan menegaskan bahwa tidak ada yang lebih penting dari keberhasilan itu.
Hari pengumuman SNBT yang katanya tak terlupakan, nyatanya benar-benar membekas. Tanganku gemetar ketika menekan tombol “lihat hasil,” dan detik-detik berikutnya adalah campuran antara degup jantung dan harap yang seperti melayang di udara. Namun, layar ponsel berkata lain, dan harap itu terjun bebas.
Malam itu, aku menangis di kamar. Bukan hanya karena gagal, tapi karena rasa malu pada orang-orang yang sudah percaya padaku. Orangtuaku, teman-temanku, bahkan guruku yang selalu memuji aku sebagai anak cerdas dan aktif. Aku merasa gagal bukan hanya pada ujian itu, tetapi pada kepercayaan yang telah diberikan padaku.
Aku melihat ke luar jendela, seolah mencari jawaban pada lampu-lampu jalan yang berkedip pelan di kejauhan. “Apa gunanya belajar mati-matian kalau akhirnya tetap gagal?” gumamku lirih. Tapi anehnya, di balik keluh itu, ada senyum tipis yang mencoba menguatkan diri sendiri. Senyum yang tidak dibuat-buat, lebih seperti keyakinan bahwa air mata ini adalah bagian dari perjalanan yang lebih panjang.
RESOLUSI
Aku bukanlah satu-satunya remaja yang gagal. Ada ribuan, bahkan jutaan remaja yang pernah merasakan pedih ini. Bedanya, masing-masing punya caranya sendiri untuk bangkit. Aku memilih untuk berdamai dengan kegagalan itu. Aku mencoba untuk mengikhlaskan kegagalan itu, aku menceritakan kepada teman-teman, dan aku mencoba kembali mengikuti ujian mandiri yang diselenggarakan oleh kampus-kampus yang aku inginkan. Aku juga melupakan kegagalan itu dengan cara berjalan-jalan dan bermain bersama teman, supaya tidak terlalu larut dalam kesedihan gagal lolos SNBT.
Satu hal yang aku pelajari, bahwa gagal itu bukan berarti tak ada harapan. Gagal hanya cara lain untuk belajar menerima, cara lain untuk memahami bahwa hidup tak selalu tentang menang dan kalah. Dalam sedihnya, ada cerita yang lebih luas daripada sekadar hasil ujian. Ada cerita tentang keberanian mencoba, tentang mimpi yang meski sempat patah, tetap tumbuh lagi.
Dan di situlah letak keindahan hidup. Kegagalanku adalah potret manusia yang selalu ingin berdiri, meski berkali-kali jatuh. Kita semua pernah merasakan patah hati oleh pengumuman, tetapi tetap berjalan, meski pelan. Karena pada akhirnya, yang membuat kita bertahan bukan kemenangan, tapi keyakinan bahwa kita masih layak bermimpi.
Pada akhirnya, aku coba mengikuti ujian mandiri kampus Politeknik Negeri Jakarta. Aku memilih jurusan yang berpotensi untuk diriku. Saat itu aku memilih tiga jurusan sesuai ketentuan dari ujian kampus yang aku ikuti, yaitu Administrasi Bisnis, Teknik Grafika, dan Penerbitan. Alhamdulillah aku lolos di jurusan Penerbitan dan sampai saat ini aku masih berkuliah di jurusan ini, dan mengikhlaskan kegagalan dalam SNBT kemarin.
Kini aku tahu, gagal bukan akhir, tapi jeda sebelum mimpi itu tumbuh kembali dengan akar yang lebih kuat.



