Persembahan Eksplorasi Diri: Sebuah Mahakarya Indonesia

Diterbitkan oleh Redaksi pada Ahad, 1 Juni 2025 22:19 WIB dengan kategori Feature Suara Mahasiswa dan sudah 379 kali ditampilkan

Daffa Aulia Ahmad

Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta

 

 

Di kota fiksi bernama “Loka”, angin senja menari dengan daun pisang. Gemerisiknya melebur dengan dentang musik keroncong dari radio tua. Rempah cimol goreng diiringi bau tanah basah setelah hujan menggantung di udara—menggambarkan sebuah Indonesia kontemporer yang terpelihara dalam rangkaian piksel. Bukan Roblox yang biasa dikenal, melainkan gim besutan Indonesia yang merupakan mahakarya.

 

Di latar yang tampak syahdu inilah Atma siswa SMA biasa, menemukan buku merah tua yang bisa menyelam ke palung jiwa manusia. Melalui buku tersebut, Atma menyelam ke samudra bawah sadar. Setiap kali ia merapalkan “Space Dive”, simbol bunga muncul sebagai metafora brilian untuk intropeksi.

 

Melalui buku merah tua, Atma mengintervensi pikiran, menelisik ketakutan ruang bawah sadar orang lain. Bayangkan, pikiran seorang musisi berubah menjadi bioskop penuh kucing, kekacauan emosi remaja berwujud pengadilan bebek.

 

A Space for the Unbound produksi Mojiken Studio bukan sekadar petualangan visual novel. Ia adalah riak air yang memantulkan pergolakan batin generasi, ketika menyelamatkan dunia dimulai dari berdamai dengan ruang gelap dalam diri sendiri.

 

Teka-Teki untuk Memahami Diri

Untuk mencapai dialektika, Atma dihadapkan permainan berupa puzzle psikologis. Teka-teki tersebut mengisyaratkan pemain bahwa membantu orang lain berarti pertama-tama memahami bentang alam mental mereka. Namun, terkadang mengubah pikiran seseorang justru merusak keseimbangan realitas.

Seakan-akan berdialektika dengan pemain, Mojiken mencoba menyampaikan dialog kritis “Sampai di mana batas intervensi kita atas luka orang lain?”

Sementara itu, plot senantiasa berkembang. Fokus Atma bukan hanya membantu permasalahan orang lain. Namun, menemukan jawaban pada dirinya dan gadis yang dicintainya.

Rayakekasih Atma mulai mendominasi plot cerita. Sebagai gadis terkenal dalam cerita, ia menyimpan ruang gelap dalam dirinya.

Depresi membelah realitas kehidupan Raya. Kekuatan imajinasinya mengubah tatanan dunia dalam pikirannya Setiap kali ia memakai kemampuan, fisiknya melemah seperti kesehatan mental yang mulai terkuras.

Adegan ketika ia tak berdaya memandang langit retak adalah gambaran nyeri yang tak terucap. Dialognya, "Aku lelah, Atma..." bukan sekadar jendela dialog pemanis di layar, tapi jeritan yang menggaung dari jiwa-jiwa terpenjara dalam kecemasan Raya.

 

Eksplorasi melalui Nostalgia

Di era distraksi digital, eksplorasi Loka yang syahdu adalah meditasi. Warung kelontong "Karunia Djaya", poster film “Ada Apa Dengan Cinta?”, botol soda gembira detail kultural ini bukan sekadar pendukung. Mereka adalah portal ke memori kolektif kontemporer Indonesia.

Di tengah reuni dengan nostalgia tersebut, pun Mojiken menyelipkan kritik halus, “Akankah kita kehilangan keheningan untuk bercermin?”

Di balik pixel indah, Mojiken mengeksplorasi plot dengan menyelipkan kritik lainnya. Kritikan tersebut sempat populer pada Indonesia kontemporer, berupa tekanan akademik pada anak, kekerasan domestik, dan sistem pendidikan yang kaku.

Misalnya, saat Atma membantu guru matematika melalui “Space Dive”, game ini mendobrak beban mental profesi terutama guru yang sering diabaikan. Di negara dengan tingkat depresi tinggi seperti Indonesia, ini adalah relevansi yang menyakitkan.

Selain itu, eksplorasi makna melalui detail kecil turut dikembangkan. Cerita Atma dan Raya—memelihara kucing, mengumpulkan botol minuman—memang tampak remeh. Namun, melalui detail kecil tersebutlah keintiman dengan diri dapat terbangun. Saat pemain mengumpulkan tutup botol soda gembira atau mengelus kucing jalanan, gim ini menyampaikan pesan halus “Refleksi dimulai dari menyadari keindahan dalam hal sederhana”.

 

Seni Memandangi Diri Sendiri

Seni gim piksl ini memikat dengan langit biru kehijauan dan atap genteng merah. Tapi kontrasnya justru menguatkan tema. Seperti kehidupan nyata, keindahan sering menyembunyikan luka. Adegan ketika langit cerah tiba-tiba berubah merah darah adalah analogi sempurna untuk krisis mental yang tak terduga.

Selain itu, lantunan nada yang menyentuh perasaan membantu pemain memandang diri sendiri. Soundtrack Masditto bukanlah semata pengiring, melainkan narator tersembunyi penggerak jiwa pemain.

"Sudahkah kita menyelami samudra dalam diri sendiri sebelum mengubah dunia?" Dalam budaya ketika  kesehatan mental masih tabu, karya Mojiken adalah buku merah yang bukan hanya mengajak pemain mengeksplor jati diri tiap orang, tapi dengan keberangan melihat bayangan sendiri di layar gim.

Ketika layar padam, refleksi diri bermula. Pemain akan selalu merindukan Kota Loka. A Space for the Unbound berakhir dengan Atma duduk di atap rumah, memandang Loka yang mulai sembuh. Setiap jiwa adalah ruang kosmik yang perlu diselami, bukan dihindari. Terima kasih A Space for The Unbound! Karena berani membisikan pertanyaan yang selama ini kita sembunyikan dalam diri.