Bukan Salahmu Gagal: Menolak Budaya Salahkan Korban
Seraphica Artika
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta
Siang hari itu, langit cerah dan jalanan lengang di sebuah sudut perumahan. Santi, siswi kelas satu SMP, baru saja pulang sekolah, mengenakan seragam putih biru dengan rok selutut, kaus kaki panjang, dan sepatu hitam. Ia berjalan bersama sahabatnya, menyusuri jalur pulang yang biasa ia lewati setiap hari.
Tak ada yang aneh hari itu. Hingga tiga laki-laki muda tiba-tiba muncul dan menghadang mereka.
"Aku pikir awalnya cuma digodain," kata Santi. "Tapi lama-lama mereka mulai maksa, tarik-tarik tangan. Temenku panik. Aku diseret ke gang."
Santi mencoba melawan, berteriak sekuat tenaga, memukul apa yang bisa dipukul. Temannya berhasil kabur mencari bantuan warga. Beberapa menit kemudian, saat orang dewasa mulai berdatangan, pelaku melarikan diri.
Tapi serangan itu bukan akhir dari traumanya.
Saat Santi menceritakan kejadian itu pada orang-orang di sekitarnya, respons yang ia terima justru menyakitkan.
"Kenapa nggak melawan?"
"Kok nggak teriak?"
"Ngapain siang-siang keluyuran?"
Santi hanya bisa terdiam. “Aku bahkan baru pulang sekolah. Aku pakai seragam lengkap. Tapi entah kenapa, mereka tetap nyalahin aku,” katanya.
Rasa bersalah yang bukan miliknya tumbuh di dalam diri: merasa gagal menjaga diri, merasa tidak cukup kuat, merasa tidak layak dipercaya.
“Padahal aku korban, tapi aku merasa... aku yang salah.”
Budaya Menyalahkan Korban
Budaya menyalahkan korban (victim blaming) adalah warisan sosial yang sudah lama bercokol di masyarakat, terutama di negara-negara dengan nilai patriarki dan moralitas publik yang ketat seperti Indonesia.
Sebuah riset dari Komnas Perempuan mencatat bahwa korban kekerasan seksual sering mengalami tekanan ganda. Selain trauma kekerasan itu sendiri, mereka juga harus menghadapi stigma, keraguan, bahkan cemooh.
Penyebabnya kompleks. Mulai dari nilai agama yang disalahartikan, norma adat yang kaku, hingga ketidaktahuan dan bias masyarakat tentang kekerasan seksual.
Yang paling menyakitkan? Saat pakaian korban dijadikan alasan pembenaran.
“Tapi dia pakai baju terbuka,” kata banyak orang.
Padahal Santi saat itu memakai seragam SMP.
Dan seperti banyak kasus lainnya, pakaian tidak ada hubungannya dengan pelecehan. Sebuah studi dari The Conversation menunjukkan bahwa korban dengan pakaian “tertutup” atau bahkan anak-anak tetap menjadi target kekerasan seksual. Bahkan ada kasus pemerkosaan terhadap anak balita, nenek, hingga hewan ternak.
Yang salah bukan pakaiannya. Yang salah pelakunya. Titik.
Di balik wajah kota modern, Depok masih menyimpan budaya patriarkal yang menekan perempuan. Di tengah kampus dan pusat pendidikan, masih banyak yang menyalahkan korban daripada pelaku. Masih banyak yang menganggap "jika perempuan dilecehkan, pasti ada salahnya." Padahal statistik dan fakta berkata sebaliknya.
Budaya menyalahkan korban atau victim blaming masih kuat di Indonesia. Menurut Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), dalam tiga tahun terakhir, permohonan perlindungan terkait kekerasan seksual terhadap anak mencapai 2.348 kasus. Ini menunjukkan bahwa anak-anak menjadi kelompok paling rentan.
Studi dari Universitas Pendidikan Indonesia mengungkap bahwa mahasiswa cenderung menyalahkan korban pelecehan seksual berdasarkan cara berpakaian atau perilaku korban. Ini menunjukkan bahwa stereotip tersebut masih mengakar kuat bahkan di kalangan terdidik.
Lebih dari 90% kasus pemerkosaan di Indonesia tidak dilaporkan karena korban takut disalahkan atau tidak dipercaya.
Santi menyampaikan pesan penting:
“Itu tidak pernah salahmu. Mereka lah yang tidak benar. Kamu adalah korban dan kamu punya hak untuk menuntut keadilan.”
Fakta
-
Sebuah studi dari Thomson Reuters Foundation menyebut Jakarta masuk dalam salah satu kota dengan tingkat pelecehan tertinggi terhadap perempuan di Asia Tenggara.
-
Data dari LPSK tahun 2023 menunjukkan bahwa lebih dari 60% korban kekerasan seksual adalah anak di bawah umur, dan mayoritas tidak mengenakan pakaian “terbuka.”
-
Dalam beberapa kasus, bahkan hewan menjadi korban kekerasan seksual, menggugurkan argumen “pakaian” sebagai pemicu.
Kita telah gagal. Gagal memahami bahwa korban bukan pelaku. Gagal memberikan ruang aman bagi perempuan untuk bercerita. Gagal menghapus budaya menyalahkan korban.
Namun, Santi bangkit.
“Saya merasa gagal karena tidak menindaklanjuti kasus itu. Tapi sekarang saya tahu, kegagalan itu bukan salah saya. Itu hasil dari sistem dan budaya yang menutup mulut perempuan,” tuturnya.
Kini, ia bersuara untuk mereka yang masih diam. Untuk mereka yang disalahkan karena tubuhnya, pakaiannya, keberadaannya. Untuk para perempuan muda yang takut pulang siang-siang, meski kota tempat mereka tinggal katanya sudah ‘maju.’
“Sudah saatnya kita berkata: cukup. Budaya menyalahkan korban harus dihentikan. Dan jika kamu pernah mengalaminya, ketahuilah: kamu tidak salah. Kamu selamat. Kamu kuat.”



