Butuh Didengar, Bukan Sekadar Ditenangkan
OPINI:
Intan Nur Anwari
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta
"Sudah ya, jangan dipikirkan. Yang penting tetap semangat."
Kalimat seperti ini sering terdengar dalam keluarga, terutama saat seseorang sedang mengungkapkan rasa kecewa, cemas, atau kelelahan. Maksudnya mungkin untuk menghibur. Namun tanpa disadari, kalimat tersebut justru bisa membuat seseorang merasa bahwa emosinya tidak valid atau tidak layak diungkapkan.
Fenomena semacam ini sangat umum terjadi di banyak rumah tangga. Ada dorongan kuat untuk selalu terlihat bahagia, bersyukur, dan tetap berpikir positif dalam segala situasi. Pertanyaannya, benarkah berpikir positif selalu menjadi solusi yang tepat?
Budaya berpikir positif dalam keluarga sering kali dianggap sebagai bentuk dukungan moral. Tidak salah memang, karena dalam banyak situasi, sikap optimis bisa menjadi penyelamat. Namun, di era ketika isu kesehatan mental semakin mendapat perhatian, kita perlu bertanya ulang: apakah berpikir positif selalu tepat diterapkan, atau justru bisa menutupi luka yang seharusnya diakui dan disembuhkan?
Berpikir positif memang penting. Dalam banyak keluarga, sikap ini menjadi fondasi saat ada anggota keluarga yang sedang terpuruk. Kata-kata penyemangat bisa menjadi penopang di masa sulit. Keluarga yang terbiasa saling mendukung dan menyemangati cenderung memiliki ketahanan emosional yang lebih baik. Sikap optimis juga dapat menumbuhkan harapan dan mempererat ikatan emosional antaranggota keluarga.
Dikutip dari Kompas.com, dalam buku The Power of Positive Thinking (1977) karya Norman Vincent Peale, berpikir positif adalah cara berpikir yang menyeluruh dan sehat karena seseorang berusaha untuk mencapai hasil terbaik dengan memanfaatkan kekuatan mental yang dimiliki.
Lebih lanjut, teori Broaden and Build yang dikembangkan oleh Barbara Fredrickson pada tahun 1998 dan dikutip dari positivepsychology.com, menjelaskan bahwa emosi positif memperluas kemampuan berpikir dan bertindak seseorang. Dalam jangka panjang, hal ini akan membangun sumber daya pribadi yang bermanfaat dalam menghadapi tantangan hidup.
Namun, persoalan muncul ketika semangat untuk berpikir positif berubah menjadi paksaan. Ketika setiap masalah hanya direspons dengan kalimat seperti, "Ikhlaskan saja," atau "Jangan mengeluh, orang lain lebih susah," tanpa memberikan ruang bagi seseorang untuk didengarkan, maka sikap ini tidak lagi menenangkan. Justru, ia menjadi beban emosional baru.
Ketika Optimisme Menjadi Tekanan
Istilah toxic positivity mengacu pada sikap memaksakan emosi positif dan menolak emosi negatif. Dalam keluarga, hal ini terlihat saat orang tua, pasangan, atau saudara hanya mau mendengar kabar baik. Keluh kesah dianggap sebagai kelemahan atau sikap tidak bersyukur. Akibatnya, anggota keluarga yang sedang mengalami kesulitan memilih diam, memendam perasaan, atau pura-pura kuat.
Merujuk psychologytoday.com, toxic positivity bisa membuat seseorang meledak secara emosional pada waktu yang tidak terduga. Ketika emosi negatif terus ditekan dan tidak memiliki ruang untuk diungkapkan, stabilitas emosional bisa terganggu.
Yang lebih mengkhawatirkan, toxic positivity sering dibungkus dengan niat baik. Kalimat seperti, "Kamu harus tetap semangat," atau, "Jangan lemah, banyak yang lebih menderita," terdengar seperti bentuk perhatian. Namun, jika disampaikan tanpa empati dan pemahaman yang mendalam, kalimat itu bisa terasa sangat menekan.
Keluarga Butuh Ruang Kejujuran
Keluarga yang sehat bukanlah keluarga yang selalu ceria. Keluarga yang sehat adalah keluarga yang mampu bersikap jujur terhadap perasaan masing-masing anggotanya. Menerima rasa kecewa, takut, sedih, bahkan marah adalah bagian dari proses membangun hubungan yang kokoh.
Daripada terburu-buru memberi nasihat atau menyuruh untuk segera berpikir positif, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mendengarkan. Terkadang, seseorang hanya butuh didengar, bukan langsung diberi solusi. Validasi terhadap perasaan yang sedang dialami bisa menjadi langkah awal dalam proses pemulihan mental dan emosional.
Berpikir positif tetap penting, namun harus diposisikan secara bijak dan proporsional. Bukan sebagai pelarian dari kenyataan, melainkan sebagai semangat yang muncul setelah emosi negatif diakui dan diterima.
Beberapa langkah yang bisa diterapkan dalam keluarga agar berpikir positif menjadi kekuatan, bukan tekanan:
-
Jadikan sikap positif sebagai bentuk dukungan, bukan sebagai bentuk pengabaian terhadap masalah.
-
Dengarkan keluhan tanpa menyela atau langsung menghakimi.
-
Tunjukkan empati dengan mengulangi atau menanggapi perasaan yang diungkapkan.
-
Berikan harapan dan saran yang membangun ketika seseorang sudah siap menerimanya.
Kita memang diajarkan untuk kuat dan tidak larut dalam kesedihan. Namun, berpikir positif tanpa ruang untuk mengekspresikan emosi negatif justru bisa membuat seseorang merasa asing di rumahnya sendiri.
Keluarga seharusnya menjadi tempat pulang, bukan panggung sandiwara emosi. Jika kita ingin membangun rumah yang sehat secara mental, mulailah dengan saling mendengarkan. Tahan dulu dorongan untuk menyemangati, dan berikan ruang untuk perasaan itu hadir dan diterima.
Seperti yang dikutip dari psychologytoday.com, Fred Rogers pernah berkata:
"Children have very deep feelings. Just the way parents do, just the way everybody does. And our striving to understand those feelings, and to better respond to them, is what I feel is the most important task in the world."
Artinya, “Anak-anak memiliki perasaan yang sangat dalam. Seperti halnya orang tua, seperti halnya semua orang. Dan usaha kita untuk memahami perasaan tersebut, dan untuk meresponsnya dengan lebih baik, adalah apa yang saya rasa merupakan tugas yang paling penting di dunia ini.”



