Trump Frustrasi dengan Putin? Analis Sebut Hasil Diplomasi Ukraina-Eropa

Diterbitkan oleh Redaksi pada Kamis, 25 September 2025 06:41 WIB dengan kategori Internasional dan sudah 321 kali ditampilkan

INTERNASIONAL - TERKININEWS.COM - Sidang Umum PBB pada Selasa (23/9/2025). Dalam pidatonya, Trump menyatakan dukungan penuh bagi Ukraina untuk merebut kembali seluruh wilayahnya dari Rusia.

Pernyataan ini mengejutkan banyak pihak di Eropa karena dianggap berbalik arah dari sikap Trump sebelumnya yang mendorong kompromi dengan menyerahkan sebagian wilayah Ukraina demi mengakhiri perang. Meski demikian, belum jelas apakah perubahan retorika ini akan benar-benar diikuti kebijakan konkret dari Washington.

Trump juga menuliskan pernyataan serupa di platform Truth Social, menandai adanya pergeseran pemahamannya terhadap konflik. Neil Melvin, Direktur Keamanan Internasional di Royal United Services Institute (RUSI), menilai pernyataan tersebut sebagai keberhasilan diplomasi Ukraina dan Eropa. “Ia tampaknya mulai frustrasi dengan Putin dan memahami kompleksitas konflik ini,” ujar Melvin. Namun ia menambahkan, Trump masih mempertahankan “ambiguitas strategis” dengan menekankan bahwa tanggung jawab utama tetap berada di pundak Eropa.

Respons Eropa pun beragam. Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyambut baik komentar Trump, tetapi menekankan perlunya langkah nyata dari negara-negara Eropa. “Tidak semua negara Eropa telah memenuhi janji mereka kepada Ukraina. Kita harus lebih berani, baik dalam bantuan finansial maupun militer,” katanya.

Sejumlah pejabat Eropa lainnya menilai pernyataan Trump bisa diartikan sebagai sinyal bahwa Washington hendak melepas tanggung jawabnya, menyerahkan beban lebih besar kepada Eropa. “Ini semacam pesan bahwa perang Ukraina adalah urusan Eropa,” kata seorang diplomat senior Eropa Timur kepada Reuters.

Dampak pidato Trump terasa langsung di pasar global. Saham perusahaan pertahanan Eropa menguat, sementara obligasi Ukraina justru melemah. Situasi ini memperlihatkan adanya ketidakpastian investor terhadap arah kebijakan AS.

Sejak kembali menjabat pada Januari 2025, Trump berulang kali meminta Eropa menanggung porsi lebih besar dalam mendukung Ukraina, bahkan sempat mengklaim dapat mengakhiri perang hanya dalam 24 jam jika diberi mandat penuh. Namun, delapan bulan kepemimpinannya justru membuat Eropa semakin ragu.

“Kepercayaan Eropa pada pendekatan Trump sudah tergerus. Pidato ini tidak memulihkan kepercayaan itu,” tutur Melvin. Ia menambahkan bahwa perubahan sikap Trump bisa saja sewaktu-waktu bergeser kembali, hanya dengan “satu panggilan telepon ke Putin”.

Dengan kondisi ini, Eropa kini berada pada persimpangan: menyambut dukungan Trump untuk Ukraina, namun tetap khawatir Amerika Serikat akan benar-benar menarik diri dari kepemimpinan dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari dua tahun itu.