Muktamar X Partai Berlambang Ka,bah Memalukan, Kursi Terbang dan Adu Jotos Warnai Momen Sakral
JAKARTA - TERKININEWS.COM - Muktamar X Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tampaknya lebih layak disebut festival adu suara dan adu kursi ketimbang forum politik yang katanya sakral. Baru hari pertama, suasana panas langsung pecah: teriakan, adu mulut, sampai kursi ikut terbang ke udara—mungkin sedang ikut berpartisipasi dalam “demokrasi ala PPP”.
Pidato Plt Ketum PPP, Muhamad Mardiono, yang seharusnya penuh wibawa dan khidmat, justru harus berhenti di tengah jalan. Bukan karena kehabisan materi, tapi karena suasana berubah jadi arena gladiator. Solusinya? Bukan dialog politik yang elegan, melainkan melantunkan shalawat bersama—seolah masalah bisa larut begitu saja dengan doa.
Mardiono tetap menegaskan bahwa kesederhanaan muktamar ini adalah bentuk empati partai pada bangsa. Ironisnya, empati itu diwujudkan dalam bentuk bangku beterbangan dan teriakan chaos. Wakil Ketua Umum PPP, Rusli Effendi, juga ikut menasihati: “beda pilihan itu biasa, jangan merusuh.” Sayangnya, imbauan itu tenggelam dalam riuh seruan perubahan ala pendukung Agus Suparmanto.
Agenda serius seperti laporan kinerja, rencana lima tahun ke depan, hingga pembentukan pengurus baru? Untuk sementara, semua itu terkubur di balik headline: “Muktamar Ricuh, Bangku Terbang.” Tampaknya, drama politik selalu lebih laku ketimbang rapat tenang.




