Banjir Bandang Guncang Wisata Guci Kembali, Pemkab Tegal Langsung Turun Tangan Tangani Dampaknya
TEGAL - TERKININEWS.COM - Tak sampai sebulan setelah mengalami kerusakan parah pada Desember 2025, khususnya di kawasan Pancuran 13 yang baru direnovasi, Wisata Guci di Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal kembali dilanda banjir bandang. Bencana mematikan ini mengguncang kawasan wisata unggulan tersebut pada dini hari Sabtu (24/01/2026).
Plh. Bupati Tegal, Ahmad Kholid, bersama komponen Forkopimda serta jajaran kepala dinas terkait segera melakukan tinjauan lokasi sebagai bentuk tanggapan cepat terhadap musibah yang kembali melanda.
Dampak yang ditimbulkan kali ini jauh lebih parah dibandingkan sebelumnya. Beberapa infrastruktur krusial mengalami kerusakan berat, salah satunya jembatan utama penghubung menuju area pemandian air panas. Kondisi ini membuat aktivitas wisata dan mobilitas masyarakat sekitar terhenti total.
"Ada kerusakan besar di sini jembatan di Curug Jedor dan Pancuran 13 sama-sama hilang. Kami sangat prihatin, oleh karena itu untuk sementara kawasan ini kami tutup guna menjamin keselamatan semua pihak," ucap Ahmad Kholid saat berada di lokasi terdampak.
Sebagai langkah antisipasi, Pemkab Tegal memutuskan untuk menutup sementara dua destinasi utama, yaitu Pancuran 13 dan Pancuran 5. Penutupan akan berlangsung hingga kondisi kawasan dinyatakan aman dan stabil.
Selain itu, untuk menghindari kerumunan serta memberikan ruang bagi proses penanganan darurat, pemerintah juga membatalkan sistem tiket masuk sementara waktu.
"Tiket masuk ke puncak Guci untuk saat ini kami tiadakan sama sekali. Ini bukan tanpa alasan keselamatan masyarakat dan wisatawan adalah prioritas utama kami," jelasnya.
Untuk menjaga mobilitas warga tetap berjalan, pemerintah telah merencanakan pembangunan jembatan bailey sebagai akses alternatif. "Kami akan fokus membangun jembatan bailey di satu titik terpilih. Sementara itu, Pancuran 13 kami tutup secara total. Mohon maaf dan kesabaran khususnya bagi para pedagang dan masyarakat sekitar," tambahnya.
Ahmad Kholid juga mengingatkan seluruh lapisan masyarakat untuk tetap waspada mengingat kondisi cuaca yang masih fluktuatif. "Cuaca belum bisa dipastikan aman. Kita harus bersama-sama melakukan mitigasi risiko agar tidak ada korban jiwa yang terjadi ke depannya," tegasnya.
Dari data sementara yang terkumpul, banjir bandang akibat hujan yang terus menerus mengguyur wilayah tersebut sejak 22 hingga 24 Januari 2026 menyebabkan minimal tiga jembatan utama putus total. Jembatan-jembatan tersebut berperan sebagai akses utama dari area parkir menuju kawasan pemandian, termasuk di lokasi Curug Jedor dan Pancuran 13.
Selain jembatan, satu unit ekskavator, beberapa lapak pedagang milik masyarakat lokal, serta pagar pembatas sepanjang aliran sungai juga terhanyut atau rusak parah akibat derasnya arus air. Kondisi ini mendorong pihak keamanan dan pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah pengamanan agar tidak terjadi risiko lebih lanjut.
Kapolres Tegal AKBP Bayu Prasatyo mengkonfirmasi bahwa penutupan kawasan Pancuran 13 telah dilakukan sejak dini hari setelah jembatan tersebut roboh. "Kami bekerja sama erat dengan Forkopimda, BPBD, dan Camat Bumijawa untuk memastikan keselamatan semua orang dan memfasilitasi aktivitas masyarakat sebisa mungkin," ungkapnya.
Ia juga menyampaikan kabar baik bahwa hingga saat ini tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir bandang tersebut. "Alhamdulillah, seluruh dampak yang terjadi hanya bersifat material. Tidak ada satu pun nyawa yang terkorban," tambahnya.
Menurut AKBP Bayu, penyebab utama banjir bandang bukan karena hujan dengan intensitas ekstrem, melainkan durasi hujan yang sangat panjang. "Hujan mulai turun sejak Kamis sore, meningkat intensitasnya sekitar pukul 21.00 WIB, dan berlanjut hingga dini hari. Meskipun curah hujannya tidak terlalu tinggi, namun kelanjutan hujan membuat debit sungai meningkat pesat dan akhirnya meluap," jelasnya.
Kesaksian dari Ketua RT setempat, Suritno, menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan banjir yang datang dalam dua gelombang besar. "Gelombang pertama terjadi sekitar pukul 23.30 WIB, saat air mulai naik dan menggeser sisa bangunan yang pernah terdampak banjir sebelumnya. Saya langsung memperingatkan pemilik kendaraan di sekitar Pancuran 13 agar segera memindahkan mobil dan motor mereka," ceritanya.
Gelombang kedua yang lebih dahsyat datang sekitar pukul 01.30 WIB. Suara gemuruh air yang bercampur dengan suara longsor terdengar jelas hingga radius 250 meter dari permukiman warga. "Itu adalah puncaknya suaranya sangat keras. Air baru mulai surut sekitar pukul 02.30 WIB, meskipun hujan masih terus turun," katanya.
Selain kerusakan jembatan, banjir juga menyebabkan longsor di bantaran sungai dan membuat jaringan pipa air bersih milik warga terhanyut, sehingga pasokan air bersih di Desa Guci terganggu.
Menghadapi kondisi tersebut, Suritno bersama perangkat lingkungan langsung melakukan woro-woro untuk membangunkan warga di RT 01, 02, dan 03. Ia juga menggerakkan para pemuda setempat untuk berjaga di sepanjang aliran sungai selama malam hari guna memantau perkembangan kondisi air.
Sampai saat ini, tim Pemkab Tegal masih terus melakukan asesmen mendalam dan penanganan darurat di lokasi terdampak. Pemerintah daerah akan menunggu instruksi resmi dari Bupati Tegal yang saat ini sedang melaksanakan ibadah umrah untuk menetapkan langkah strategis pemulihan jangka menengah dan panjang bagi Wisata Guci pascabencana. (Sholeh).



