IHSG Ambruk dan Trading Halt, Alarm Keras Krisis Kepercayaan Pasar

Diterbitkan oleh Redaksi pada Kamis, 29 Januari 2026 07:05 WIB dengan kategori Ekonomi dan sudah 512 kali ditampilkan

EKONOMI - TERKININEWS.COM - Anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga memicu penghentian perdagangan (trading halt) bukan sekadar gejolak pasar sesaat. Kejadian ini menjadi sinyal keras merosotnya kepercayaan investor terhadap tata kelola pasar keuangan Indonesia, yang selama ini dibayangi isu transparansi kepemilikan saham, dugaan praktik perdagangan terkoordinasi atau “gorengan”, serta persepsi intervensi politik dalam kebijakan ekonomi.

IHSG terjun bebas pada perdagangan hari ini. Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan selama 30 menit pada pukul 13.43 WIB setelah indeks jatuh lebih dari 8%. Pada penutupan sesi I, IHSG melemah 7,34% ke level 8.321,22. Tekanan berlanjut pada sesi II hingga IHSG menyentuh 8.261,79 atau turun 718 poin, memicu trading halt sesuai ketentuan bursa.

Pemicu utama kejatuhan pasar adalah keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan sementara proses rebalancing terhadap saham-saham Indonesia. MSCI menilai masih terdapat masalah serius dalam transparansi data kepemilikan saham yang berdampak pada akurasi penilaian free float.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta BEI mengevaluasi secara menyeluruh permintaan MSCI, khususnya terkait kejelasan struktur kepemilikan saham. Ia menekankan pentingnya perbaikan data agar kredibilitas pasar modal Indonesia tidak terus tergerus.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta pelaku pasar untuk tidak bereaksi berlebihan. Ia meyakini pasar saham akan kembali rebound seiring pembenahan fundamental ekonomi nasional yang terus dilakukan pemerintah.

Direktur Utama BEI Iman Rachman menjelaskan bahwa BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah berupaya memenuhi seluruh permintaan MSCI. Penyempurnaan data free float disebut sudah berjalan, namun membutuhkan waktu.

Dalam pengumumannya, MSCI menyatakan akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), serta tidak menambahkan saham baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). MSCI juga meniadakan kenaikan segmen ukuran indeks, termasuk migrasi saham dari kategori Small Cap ke Standard, hingga kekhawatiran investor global terselesaikan.

Isu utama yang disorot MSCI mencakup struktur kepemilikan tersembunyi dan dugaan praktik perdagangan terkoordinasi yang dinilai berpotensi mendistorsi harga saham. Kondisi ini memicu kekhawatiran lebih besar, yakni risiko penurunan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Managing Director Research Samuel Sekuritas, Harry Su, memperingatkan bahwa jika Indonesia benar-benar turun kelas, IHSG berpotensi terkoreksi lebih dalam hingga ke level 5.000-an. Saat ini, total dana investasi yang mengikuti indeks MSCI Indonesia diperkirakan mencapai USD 120 miliar. Sebagai perbandingan, total dana di MSCI Frontier—yang saat ini ditempati Vietnam—berada di bawah USD 60 miliar. Artinya, potensi eksodus dana asing bisa melebihi USD 60 miliar atau hampir 30% dari total free float pasar saham Indonesia.

Pandangan senada disampaikan Manajer Portofolio Franklin Templeton Global Investments, Yiping Liao. Ia menilai penurunan peringkat pasar Indonesia akan berdampak signifikan terhadap arus modal asing dan persepsi risiko jangka panjang.

Di tengah tekanan tersebut, sejumlah analis menilai koreksi tajam hari ini masih dipicu sentimen jangka pendek. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong dan analis Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan menyebut penurunan didorong oleh panic selling, bukan semata-mata pelemahan fundamental.

Namun, Associate Director Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus mengingatkan bahwa koreksi bisa berlangsung lebih lama jika regulator tidak segera mengambil langkah konkret. Menurutnya, masalah utama bukan hanya volatilitas, melainkan krisis kepercayaan investor global terhadap integritas dan kepastian hukum pasar saham Indonesia.

Di balik tekanan besar ini, sebagian pelaku pasar melihat peluang pembenahan. Krisis dianggap bisa menjadi momentum untuk membersihkan pasar, memperbaiki transparansi data, memperkuat pengawasan, serta mengembalikan kredibilitas yang menjadi fondasi mutlak agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga kokoh secara struktural.