Gubernur Jateng Tinjau Lokasi Tanah Bergerak di Padasari, Didampingi Bupati Tegal

Diterbitkan oleh Redaksi pada Kamis, 5 Februari 2026 19:11 WIB dengan kategori Kota Tegal Tegal dan sudah 429 kali ditampilkan

TEGAL - TERKININEWS.COM - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melakukan peninjauan langsung lokasi kejadian tanah bergerak yang melanda Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal. Dalam kunjungan tersebut, beliau ditemani oleh Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman beserta jajaran terkait,Rabu (4/2/2026).

Peristiwa yang berpotensi meluas ini menjadi fokus perhatian bersama, dengan upaya penanganan darurat dilakukan secara terpadu untuk menjamin keselamatan seluruh warga terdampak.
 
Bertindak sebagai tim pendamping dalam kunjungan tersebut adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Tegal, Kepala BPBD Kabupaten Tegal, Kapolres Tegal, unsur TNI/Polri, Forkopimda Kabupaten Tegal, Forkopimcam Jatinegara, serta perangkat desa setempat.
 
Kejadian tanah bergerak pertama kali terdeteksi pada hari Senin (2/2/2026), setelah wilayah tersebut diguyur hujan lebat mulai pukul 14.00 WIB. Sekitar pukul 19.00 WIB, tercatat adanya pergerakan tanah yang kemudian memicu tindakan cepat dari BPBD Kabupaten Tegal bersama Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) untuk melakukan asesmen, koordinasi, dan evakuasi warga.
 
Menurut Bupati Ischak Maulana Rohman, kunjungan lapangan ini merupakan tindakan konkret setelah Forkopimda Kabupaten Tegal mengambil keputusan untuk mengeluarkan warga dari zona rawan, mengingat risiko terjadinya kejadian susulan masih sangat tinggi.
 
"Kami bersama seluruh elemen terkait melakukan peninjauan sebagai tindak lanjut dari keputusan kemarin malam. Evakuasi dilakukan untuk warga di Pedukuhan Tigasari dan sebagian Pedukuhan Padareka guna menghindari dampak yang lebih besar akibat kemungkinan pergerakan tanah kembali," paparnya.
 
Hingga saat ini, telah tercatat sekitar 200 kepala keluarga (sebanyak 200 rumah) dengan jumlah penduduk sekitar 700 jiwa telah ditempatkan di titik pengungsian yang aman. Lokasi pengungsian antara lain di rumah milik warga Kamal, SD Negeri 1 Padasari, dan majelis taklim yang berada di belakang kediaman Kepala Desa.
 
"Kami telah mengambil langkah antisipasi sejak malam kejadian, mulai dari penyediaan tenda pengungsian yang dilengkapi alas, dapur umum di dua titik, hingga lima unit toilet portabel. Selain itu, toilet milik warga yang masih layak juga tetap dimanfaatkan," jelas Bupati.
 
Beliau juga menyampaikan bahwa berkat langkah evakuasi yang cepat, tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, dampak kerusakan cukup luas, dengan sekitar 200 rumah mengalami kerusakan ringan hingga berat, bahkan beberapa bangunan roboh. Salah satunya adalah fasilitas pendidikan SMA NU Al-Adalah yang berada di kompleks Pondok Pesantren Al-Adalah.
 
"Status tanggap darurat bencana telah resmi ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati. Kami juga telah mengaktifkan pos komando dan satgas kebencanaan, yang dikomandani oleh Sekretaris Daerah dengan arahan dari Forkopimda," tegasnya.
 
Berdasarkan data sementara yang dihimpun hingga pukul 14.10 WIB hari Rabu (4/2), dari 161 unit rumah yang telah terdata, sebanyak 109 unit rusak berat, 26 unit rusak sedang, dan 26 unit rusak ringan. Secara keseluruhan, diperkirakan total terdampak mencapai sekitar 250 rumah dengan jumlah penduduk sekitar 250 KK atau 760 jiwa.
 
Selain permukiman warga, bencana ini juga mengganggu infrastruktur vital seperti tiga titik jalan desa dan kabupaten, satu bendung irigasi, serta satu jembatan desa. Beberapa fasilitas pemerintahan, pendidikan, ibadah, dan kesehatan juga terdampak. Jumlah total pengungsi hingga saat ini mencapai 1.154 jiwa, yang terdiri dari 628 warga lokal dan 526 santri, dengan lokasi pengungsian tersebar di rumah warga, majelis taklim, sekolah, dan pondok pesantren.
 
Dalam arahannya, Gubernur Ahmad Luthfi menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan penanganan bencana yang tidak hanya bersifat sementara.
 
"Saya menginstruksikan seluruh pihak untuk tetap siaga dan melakukan antisipasi guna mencegah kejadian susulan yang tidak terduga," ucap Gubernur.
 
Beliau juga menegaskan bahwa penanganan harus menyeluruh, mulai dari pemenuhan kebutuhan dasar hingga perencanaan masa depan bagi masyarakat terdampak.
 
"Kita tidak hanya memberikan bantuan sementara, melainkan juga harus memastikan ketersediaan hunian sementara dan tetap. Di Tegal, semua kebutuhan mulai dari dapur umum, akses pendidikan, hingga infrastruktur seperti jalan dan jembatan harus menjadi prioritas. Bagi jembatan yang putus, target penyelesaiannya maksimal satu minggu, bahkan bisa diselesaikan dalam tiga hari," jelasnya.
 
Menurut Gubernur, sekitar 250 rumah diperkirakan tidak dapat dibangun kembali di lokasi semula, sehingga penyiapan hunian tetap menjadi fokus utama.
 
"Kita akan mengubah hunian sementara menjadi hunian tetap yang dilengkapi fasilitas umum lengkap. Dinas Sosial provinsi dan kabupaten harus bekerja sama untuk memastikan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat terdampak," pungkasnya.
 
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Kabupaten Tegal akan terus melakukan penanganan terpadu selama masa tanggap darurat 14 hari ke depan, sambil menunggu rekomendasi teknis dari Badan Geologi terkait keamanan lahan dan rencana relokasi warga. (Sholeh).