Presiden Jokowi Akan Buka Kongres Dunia Kedokteran Militer di Bali
Presiden Joko Widodo akan membuka Kongres Dunia Kedokteran Militer ke-41 atau International Committee of Military Medicine (ICMM) World Congress on Military Medicine yang berlangsung pada 18 Mei 2015 di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC).
Saat ini, tercatat 643 peserta dari 78 negara menyatakan hadir. Sementara itu, terdapat 145 pembicara dalam rangkaian kongres, dimana 74 pembicara diantaranya berasal dari Indonesia.
"Ini kesempatan langka, karena penyelenggaraannya dua tahun sekali dengan hampir 100 negara anggota, kesempatan jadi tuan rumah bisa saja baru terulang 200 tahun lagi. Tidak ada makan siang gratis, karena itu, sebagai tuan rumah kita akan menggelar eksebisi sesuai kepentingan nasional kita, begitu juga dengan jalannya kongres,” kata Dirjen Kuathan Kementrian Pertahanan (Kemhan) Laksamana Muda TNI Agus Purwoto didampingi Ketua Steering Committe ICMM Mayjen TNI dr Daniel Tjen dan Ketua Organizing Committe Brigjen dr Terawan AP di Kementrian Pertahanan (Kemhan), Jakarta, kemarin.
Bertindak sebagai tuan rumah kongres yang akan berlangsung sejak 17-22 Mei 2015 itu adalah Kementrian Pertahanan RI yang didukung Kementrian Luar Negeri (Kemlu), Pusat Kesehatan TNI dan Perhimpunan Kedokteran Militer Indonesia (Perdokmil). Kongres akbar itu sendiri bakal dihadiri 750 peserta dari 114 negara anggota OCMM dan 6 negara observer. Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Riyacudu akan menyampaikan keynote lecture bertajuk, Improving Military Medicine Knowledge, Skills and Competencies to Increase the Defensive Ability of the Country.
Agus juga mengungkapkan, pertemuan kongres dunia kedokteran militer itu sangat penting, apalagi dewasa ini disinyalir setiap mewabahnya suatu virus selalu diikuti dengan kepentingan bisnis dibelakangnya. "Dalam kongres itu, akan berbicara banyak ahli, dimana 74 diantaranya merupakan pembicara dari Indonesia yang sudah memperoleh sertifikasi untuk menyampaikan paparannya dalam kongres," terangnya.
Ketua Stering Committe Mayjen TNI dr Daniel Tjen mengungkapkan, ada banyak isu strategis yang akan dibicarakan dalam kongres dunia kedokteran miiter tersebut, diantaranya menyangkut penggunaan senjata kimia. Namun, yang menjadi target dari pertemuan itu, bagaimana mengukuhkan kerjasama joint operation terhadap negara-negara yang mengalami bencana.
Bagi Indonesia sendiri, setidaknya tercipta kerjasama di bidang kedokteran militer dengan negara-negara ASEAN.
"Karena jika terjadi suatu bencana terhadap negara-negara sekitar kita, cepat atau lambat akan memberi dampak terhadap negara kita. Karena itu, perlu ada kerjasama untuk mengatasi masalah itu bersama-sama," terangnya. [rmol/ysa]

