Pelabuhan Batu Ampar di Era Ex Officio

Diterbitkan oleh Admin pada Ahad, 12 Januari 2020 12:15 WIB dengan kategori Batam Headline dan sudah 1.066 kali ditampilkan

Opini Antara Merubah Manajemen dan Komitmen Pemerintah Pusat

BATAM, -- Pergantian kepemimpinan Badan Usaha Pelabuhan Batam merupakan rencana strategis Rudi sebagai Kepala Ex Officio BP Batam untuk mengembangkan Pelabuhan Batu Ampar. Minggu (12/1/2020) terkininews.com

Menurut Ady Muzwardi, Dosen Hubungan International UMRAH bahwa terpilihnya Nelson Idris sebagai Direktur Badan Usaha Pelabuhan  disertai dengan peralihan permasalahan dari kepala - kepala pelabuhan di era sebelumnya yaitu pengembangan Pelabuhan Batu Ampar yang lambat.

Keterbatasan anggaran, SDM, polemik infrastruktur dan kebijakan nasional dan pengaruh ekonomi politik Singapura kerap membayangi Pelabuhan Batu Ampar, infrastruktur Pelabuhan Batu Ampar saat ini tidak lebih dari pelabuhan Rotterdam tahun 1970an. Kata Ady Muzwardi

"Selain itu biaya (Freight-Cost) Batam - Singapura (USD 400) jauh lebih mahal dari dari Jakarta - Singapura (USD 250 - 280). Disisi lain kemampuan pelayanannya hanya sebatas 400,000 TEUs." Terang Dosen Hubungan International UMRAH ini.

Melalui kepemimpinan Kepala Ex Officio BP Batam saat ini mulai ada angin perubahan, dengan masuknya Nelson Idris orang lama di industri pelayaran Pelni sebagai Direktur Badan Usaha Pelabuhan dan dibangunnya kerjasama bisnis melalui Konsersium 3 BUMN (Pelindo I, Pelindo II & Persero Batam).

Tentu saja kerjasama ini diharapkan dapat membawa perubahan signifikan dalam pengembangan infrastruktur seperti pengadaan Container Crane (CC) disisi Dermaga Utara dan pengembangan dermaga selatan.

"Selain itu ada joint working group dengan Persero Batam dapat meningkatkan kinerja lalu lintas barang di Pelabuhan Batu Ampar." Tambahnya

Lanjut secara khusus Pelabuhan Batu Ampar diuntungkan dengan lokal market yaitu pertumbuhan sektor industry ekspor di kawasan FTZ Batam. Itu yang membuat Pelabuhan Batu Ampar masih bertahan sampai saat ini.

"Berbeda dengan pelabuhan Kuala Tanjung yang dibangun menjadi mega port tetapi tidak memiliki pasar yang sustainable atau Sabang yang tidak memiliki industry hilir sehingga merubah orientasi pelabuhanya menjadi pelabuhan cruise dan yacht". Kata dia

Pelabuhan Batu Ampar secara spasial masih bisa dibentuk seperti pelabuhan jurong atau pelabuhan pasir panjang di Singapura, tetapi ini tentu harus didukung kebijakan Pemerintah Pusat yaitu Kemenko Kemaritiman.

Kita lihat selama ini Pemerintah Pusat justru membangun dan mengembangkan pelabuhan di sisi timur pulau Sumatera bukan meningkatkan kinerja pelabuhan di perbatasan seperti di Batam dan Sabang. Paparnya

Pada akhirnya rencana pengembangan Batu Ampar oleh Kepala Ex Officio ini akan ditentukan oleh daya juang manajemen yang baru dan komitmen pemerintah pusat dan profesionalitas BUMN. Semoga rencana ini bisa mendekati mimpi Batu Ampar menjadi International Logistic Hub. (*)