Mencari Motivasi Hidup bersama Buya Hamka

Diterbitkan oleh Redaksi pada Selasa, 3 Juni 2025 16:33 WIB dengan kategori Opini Suara Mahasiswa dan sudah 440 kali ditampilkan

OPINI:

Rio Ferdinand

Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta 

 

Di tengah derasnya arus kehidupan, manusia kerap dihadapkan pada tantangan yang terasa tak berujung: himpitan ekonomi, kegagalan dalam meraih impian, hingga tekanan sosial yang membelenggu langkah. Namun, dalam pusaran ujian itu, selalu ada lentera yang menuntun jiwa untuk terus menyala—yakni motivasi hidup. Salah satu tokoh yang banyak menyalakan lentera tersebut bagi generasi Indonesia adalah Buya Hamka, seorang ulama, sastrawan, dan filsuf yang tak hanya berbicara, tetapi menjalani kehidupan penuh perjuangan dengan keteguhan hati.

 

Buya Hamka bukanlah sosok yang lahir di panggung kemewahan. Ia dibesarkan dalam suasana keprihatinan ekonomi di Minangkabau, Sumatra Barat, namun semangat belajarnya tak pernah padam. Ia belajar agama, menulis, dan berdakwah sejak usia muda—bukan karena fasilitas yang mendukung, tetapi karena api dalam dirinya yang terus menyala: keyakinan bahwa hidup ini adalah perjuangan, dan manusia tak boleh menyerah pada nasib.

 

Dalam banyak karyanya, seperti Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Lembaga Budi, dan Tasawuf Modern, Hamka mengajarkan bahwa hidup harus dijalani dengan cita-cita, iman, dan kesabaran. Motivasi hidup, bagi Hamka, bukan sekadar semangat temporer, melainkan sikap mental yang dibangun dari akhlak, akal sehat, dan keyakinan kepada Allah.

 

Menemukan Tujuan dalam Keterbatasan

Motivasi hidup yang sejati tak datang dari luar, melainkan tumbuh dari kesadaran dalam diri. Hamka menulis, “Orang yang tidak mempunyai cita-cita, sama halnya dengan kapal tanpa tujuan, berlayar mengikuti angin dan ombak, akhirnya karam.” Kalimat ini menunjukkan bahwa keterbatasan hidup bukan alasan untuk menyerah, melainkan ladang subur untuk menggali makna dan arah hidup. Buya Hamka sendiri menempuh jalan sunyi dengan belajar secara otodidak di masa mudanya, namun tekad dan keinginan memperdalam ilmu membuatnya menjadi ulama besar yang diakui bahkan di tingkat internasional.

 

Dalam konteks hari ini, banyak dari kita merasa hidup buntu karena terbentur kemiskinan, keterbatasan pendidikan, atau lingkungan yang tidak mendukung. Namun Hamka mengingatkan, bahwa justru dari keterbatasan itulah tumbuh kekuatan untuk mencipta dan bertahan. Motivasi hidup tak ditentukan oleh kondisi, tetapi oleh respon kita terhadap kondisi itu.

 

Iman sebagai Pijakan Terkuat

Motivasi hidup menurut Hamka tidak pernah lepas dari fondasi keimanan. Ia mengatakan, “Hidup yang tidak disandarkan pada Tuhan, adalah hidup yang rapuh.” Bagi Hamka, iman bukan sekadar ritual, tetapi sumber energi spiritual yang membuat manusia tetap kuat, meski dihantam gelombang ujian.

 

Saat dipenjara oleh rezim Soekarno tanpa dakwaan yang jelas, Hamka tidak larut dalam kesedihan. Ia justru menulis tafsir Al-Qur’an Al-Azhar selama masa tahanan. Ini menunjukkan bagaimana keimanan bisa menjadi sumber produktivitas luar biasa, bahkan di tengah kondisi yang paling suram sekalipun.

 

Bagi generasi muda yang kini hidup di era digital dengan tantangan mental yang kian kompleks, nasihat Hamka menjadi relevan: bahwa kekosongan batin tak bisa diisi dengan hiburan semata, melainkan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Ketika manusia merasa dicintai oleh Tuhannya, maka ia akan menemukan alasan untuk terus bertahan dan melangkah.

 

Ilmu dan Akhlak: Bekal untuk Bertumbuh

Motivasi hidup juga tumbuh dari ilmu pengetahuan dan akhlak yang baik. Hamka menekankan pentingnya membaca, berpikir, dan berdiskusi. Baginya, ilmu bukan sekadar tumpukan fakta, melainkan jalan untuk memahami kehidupan. Dalam banyak tulisannya, ia menyoroti bahaya kebodohan dan kemalasan berpikir, sebab itulah yang membuat manusia kehilangan arah.

 

Namun ilmu tanpa akhlak adalah sia-sia. Hamka menegaskan bahwa karakter mulia adalah syarat utama untuk meraih kebahagiaan sejati. “Ilmu tinggi, akal cemerlang, tetapi tidak jujur dan tidak amanah, akan menghancurkan diri sendiri,” tulisnya.

 

Dalam dunia yang kian kompetitif dan pragmatis, kata-kata Buya Hamka menjadi peringatan sekaligus pelita: bahwa motivasi sejati tidak terletak pada pencapaian semata, tetapi pada cara kita mencapainya—apakah dengan kejujuran, dengan ketekunan, dan dengan hati yang tulus.

 

Kesabaran dan Keteguhan Hati

Salah satu pesan paling kuat dari Hamka tentang motivasi hidup adalah pentingnya kesabaran. Dalam Tasawuf Modern, ia menulis, “Kesabaran itu bukan diam. Ia adalah kemampuan menahan gelisah untuk tetap berusaha.” Ini adalah tafsir baru tentang sabar: bukan pasrah, tetapi aktif menghadapi kenyataan.

 

Banyak orang hari ini cepat menyerah saat gagal, patah semangat setelah dihina, dan hilang arah saat impian tak kunjung terwujud. Padahal, menurut Hamka, setiap kesulitan adalah pintu ujian yang jika dilalui, akan mengantar kita pada kematangan jiwa.

 

Kesabaran dan keteguhan hati bukan hanya nilai spiritual, tetapi juga kekuatan psikologis. Dalam dunia psikologi modern, konsep “grit” atau daya juang menjadi salah satu indikator keberhasilan jangka panjang seseorang. Ini sangat selaras dengan ajaran Hamka tentang istiqamah dan tekad hidup.

 

Menjadi Lentera bagi Sesama

Motivasi hidup bukan hanya untuk diri sendiri. Hamka mengajak setiap manusia menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. Ia menulis dan berdakwah bukan untuk mencari popularitas, tetapi untuk membangkitkan kesadaran kolektif bangsa Indonesia agar bangkit dari keterjajahan, kemalasan, dan kemiskinan mental.

 

Dalam sebuah wawancara, Buya Hamka berkata, “Hidup bukan untuk memperkaya diri, tetapi untuk memberi arti.” Prinsip ini penting dalam dunia hari ini yang seringkali mendorong orang untuk bersaing secara egoistik. Padahal, dalam berbagi dan membantu sesama, motivasi hidup justru tumbuh lebih kuat.

 

Kita bisa mulai dengan hal sederhana: menjadi pendengar yang baik bagi teman yang sedang terpuruk, berbagi ilmu yang kita tahu, atau sekadar menyebarkan semangat lewat tulisan dan tindakan nyata. Seperti Hamka, yang dengan pena dan suara hatinya, membangkitkan semangat satu generasi.

 

Bangkit dengan Jiwa yang Terbuka

Motivasi hidup bukan sesuatu yang datang secara instan. Ia tumbuh pelan-pelan dari refleksi, perjuangan, dan doa yang tak henti. Buya Hamka telah memberi teladan bahwa manusia bisa melewati masa paling gelap sekalipun, selama ia memiliki cita-cita, iman, dan hati yang bersih.

 

Hidup memang tak selalu mudah. Tapi seperti kata Hamka, “Selama matahari masih terbit di pagi hari, harapan itu masih ada.” Maka, jangan menyerah. Mari kita jalani hidup dengan semangat, bukan karena dunia selalu adil, tetapi karena kita memilih untuk tetap tegar, seperti Hamka yang terus menyala di tengah gelapnya zaman.